Translate

Senin, 18 Maret 2019

IMM dan Revolusi Peradaban



Ketika kita mencoba merefleksikan kembali ke masa lalu tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia maka kita tidak bisa lepas dari bayang-bayang peran pemuda dalam proses memerdekakan bangsa ini. Para kaum mudalah yang kemudian membangun fondasi awal kehiduapan berbangsa dan bernegara buah dari kesengsaraan yang selama ini dirasakan melalui penindasan kolonialisme. Bukti otentik telah menjadi saksi bisu bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 momentum sumpah pemuda menjadi bingkai awal yang mempersatukan bangsa ini kedepannya.
Proses kelahiran bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan para pemuda bangsa & rakyat Indonesia yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli. Kesadaran pemuda akan pentingnya berdiri di bawah kaki sendiri dan mendirikan Negara sempat terhalang oleh perbedaan  paham dengan generasi tua saat itu, sehingga di detik-detik menjelang proklamasipun perbedaan pendapat makin terasa dikarenakan kaum muda berinisiatif untuk segera memproklamirkan Negara Indonesia merdeka. , tekad pemuda inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian, yaitu pada 17 Agustus 1945.
Era orde baru & era reformasi memberikan bukti syah bahwa peran pemuda dalam setiap dinamika kebangsaan memberikan pengaruh perubahan yang signifikan terhadap nasib bangsa ke depan. Bukan hanya berperan dalam menyuarakan kemakmuran & kemerdekaan bangsa tetapi bagaimana pemuda berperan aktif dalam aspek kemajuan bangsa melalui kebrakan-gebrakan kongkrit dalam dunia Pendidikan, Budaya, Politik, Kesehatan & Ekonomi. Hal inilah yang seharusnya tertancapkan secara kokoh di setiap paradigma pemuda bangsa Indonesia.
Tetapi melihat realita pada zaman modern ini peran pemuda dalam dinamika kebangsaan seolah hanya menjadi isapan jempol belaka. Harapan besar bangsa ini terhadap pemudanya seolah kembali luntur oleh tindakan-tindakan yang mendegradasikan bangsa ini kejurang penjajahan baru. Seolah-olah bukan lagi bangsa ini yang dijajah tetapi karakter pemuda bangsa ini yang telah kembali terjajah oleh sebuah sistem pemikiran (ideological system) hedonisme & globalisme.
Ingat kita bukan kembali terjajah melalui perluasan & penguasaan negara tetapi secara tidak langsung sadar maupun tidak sadar bangsa ini seolah kembali terjajah oleh sistem-sistem pemikiran Westenisasi & Modernisasi yang merasuki setiap sudut paradigma pemuda zaman sekarang. Hal ini terjadi karena mereka tahu bahwa setiap pemuda yang ada di dalam sebuah bangsa memiliki peran sebagai agen perubahan (Agent of Change) & juga sebagai pelopor (Founding Father) di masa mendatang. Maka dari itu mereka berusaha merusak akar pohon yang telah di bangun dengan sangat kokoh dengan sistem-sistem yang telah mereka bangun.
Berbagai persoalan diatas yang tentunya memerlukan ide (pemikiran) besar juga untuk menghadapinya. Dan posisi kaum Muslim di Indonesia dengan segala permasalahan yang mendekapnya itu, tentunya harus siap menjadi solusi (problem solver) bukan malah menjadi bagian dari masalah (part of problem).
Kegelisahan akan kondisi umat membuat beberapa pemikir Islam memiliki keinginan kembali mengembalikan kejayaan umat dan bangsa, maka muncullah tokoh pembaharuan termasuk Kiai H Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah  untuk menjawab permasalahan umat dan kebangsaan.
Sebagai kaum pemikir (intelektual), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki peran tersendiri dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Peran pergerakan yang di milikinya di mainkan dengan visi pergerakan IMM sebagai penggerak sosial, dan berperan sebagai jembatan penghubung antara pemerintah (pemimpin) dan masyarakat yang dipimpinnya.
IMM yang memiliki tradisi intelektual dan sikap kritisnya harus tetap dibangun secara konstruktif. Outputnya pun kader-kader yang militan. Kader yang memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni dan pembacaan terhadap realitas sosial dan politik yang jelas, sehingga bisa menempatkan idealisme dalam konteks kenyataan yang ada.
Menciptakan kader yang mumpuni dan berkualitas harus dimasifkan yang nantinya mampu menjawab dinamika kebangsaan. Paradigma bahwa para aktivis hanyalah tukang demonstrasi dan akan menghambat studi mereka melekat kuat dalam benak mahasiswa, termasuk para kader itu sendiri.Paradigma ini harus dirubah, harus dipertegas dan dijelaskan dengan benar bahwa peran aktivisme malah akan menguatkan pembacaan teoritis kader yang tentunya akan mendukung akademisnya di kampus.
Perpolitikan dan demokrasi yang penuh dengan berbagai riak dan skandal, menggambarkan ketiadaan pijakan pemikiran dan bingkai moral yang kokoh. Seolah nilai yang tedapat dalam falsafah hidup negara kita telah luntur atau bahkan lenyap dari hati para elit bangsa ini. Sehingga dibutuhkan kader-kader tangguh dengan pembacaan-pembacaan cerdas untuk mengawal demokrasi dan pembangunan bangsa ini ke depan yang senantiasa berhaluan nilai-nilai pancasila & keislaman.
Menghadapi pesta demokrasi lima tahun sekali yakni pemilihan presiden dan wakil presiden, dan pemilu legislatif maka kader IMM dituntut agar senantiasa menjadi actor dalam moment ini. Berbekal nalar kritis inilah diharapkan kader-kader IMM dapat memberikan inovasi dan kreasi untuk kemajuan bangsa kedepannya. Pemilu 2019 ini menjadi sejarah baru bagi bangsa ini, bagaimana tidak sejak diproklamirkan merdeka tahun 1945 yang lalu dan memasuki masa pemilihan umum pertama di tahun 2009. Baru kali ini bangsa Indonesia menghadapi pemilu dengan menggabungkan beberapa pemilihan dalam satu waktu yakni, pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan DPR RI, DPRD Provinsi, DPD, dan DPRD Kabupaten.
Pemilu ini bisa menjadi momentum baik bagi kader di tingkat pusat maupun di tingkat cabang dan komisariat untuk mengambil peran strategis sebagai kaum intelektual dalam rangka memberikan pencerahan kepada warga masyarakat.
Selain itu tingginya animo menjelang pesta demokrasi berdampak dengan makin kuatnya gesekan antara para elit politik negri ini untuk menarik simpati dan mengamankan kekuasaan. Bukti konkritnya yakni terbaginya poros kekuasaan antara politis petahanan dan politis penantang. Yang amat sangat miris, kerap kali menyuguhkan tontonan yang amoral yang tidak sama sekali mencerminkan kedewasaan dalam hidup berdemokrasi. Hal ini terlihat dengan jelas dengan banyaknya ujara-ujaran kebencian bernada provokatif dan munculnya hoaks-hoaks yang menyesatkan dan menyulit api permusuhan yang kian membara.
Untuk itu maka kader IMM diseluruh tanah air perlu memberikan gebrakan baru yang penulis beri nama sebagai “Revolusi Peradaban”. Sebelum itu menarik untuk melirik sejenak dua tokoh bangsa ini yang mempunyai gagasan visioner tentang revolusi yakni Presiden Republik Indonesia dengan gagasan Revolusi Mental dan Amien Rais dengan gagasan Revolusi Moral.
Sebelum itu menarik untuk menyimak beberapa pandangan para ahli mengenai revolusi,seperti  Wiliam Ogburn  revolusi yakni Ruang lingkup perubahan sosial meliputi, unsur-unsur budaya baik material dan non-material (immaterial) untuk menekankan pengaruh besar dari unsur-unsur budaya material dari elemen immaterial. Gillin-Gillin- Menafsirkan revolusi  perubahan sosial sebagai, cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan dalam geografi, materi budaya, komposisi penduduk, ideologi dan karena difusi dan penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Koentjaraningrat- Revolusi merupakan usaha untuk dapat hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang. Soerjono Soekanto- Revolusi adalah bentuk perubahan sosial. Perencanaan biasanya bertujuan untuk perubahan sosial (perubahan diarahkan) dan didasarkan (palnning sosial). Sedangkan menurut peneliti sendiri revolusi adalah proses transformasi total dari segala macam aspek kehidupan manusia yang di proyeksikan ke pola-pola tradisonal menuju ke arah kemajuan yang bersifat nyata dan konkrit.
Selain itu mengutip laman kompas.com Revolusi Mental" merupakan jargon yang diusung presiden terpilih Joko Widodo sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014. Namun, tak banyak penjelasan konkret muncul atas frasa itu. dalam diskusi dengan tajuk jargon tersebut di Balai Kartini, Jumat (17/10/2014). Diskusi pada Jumat petang tersebut dipandu oleh presenter Najwa Shihab. Jokowi juga hadir di sana. Jawaban atas pertanyaan tentang revolusi mental pun datang dari Jokowi. Jokowi memulai jawabannya dengan menyebutkan tentang sebuah keharusan. Menurut dia, revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa. Indonesia, merupakan bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong. Revolusi mental  merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. Namun sedikit demi sdikit mental yang tergerus, merupakan akar dari munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja tidak baik, bobroknya birokrasi, hingga ketidaksiplinan. Kondisi itu dibiarkan selama bertahun-tahun dan pada akhirnya hadir di setiap sendi bangsa. Maka dari itu orang nomor satu di republic ini mengatakan pentingnya revolusi mental.
Pada kesempatan yang lain sebagai respon dari frasa Jokowi tentang revolusi mental Amien Rais menerbitkan sebuah buku dengan judul Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral”. Buku ini diluncurkan sebagai kritik atas revolusi mental ala Jokowi yang dianggap Amin Rais tidak punya kerangka konstruktif yang nyata bagaimana membangun arah baru bagi bangsa ini kedepannya. Dalam buku ini Amin Rais secara tegas mengatkan Bagi masyarakat apalagi kawulo alit, nawacita sudah berubah menjadi nawasengsara (hlm. 10). Sengsara Sosial (kesenjangan makin lebar antara kelompok kaya dan kelompok miskin); Sengsara Ekonomi (Harga makin mahal dan ekonomi makin memburuk); Sengsara Hukum (hukum tumpul keatas tapi tajam ke bawah, pembubaran HTI tanpa peradilan yg diskriminatif, dsb) Sengsara HAM (pelanggar HAM di Aceh/ Papua semakin banyak); Sengsara Moral (kehidupan bangsa hampir tanpa rujukan moral) dan masih banyak lagi. Amien Rais menyebutkan program Jokowi yang dinamakan revolusi mental mungkin terdengar begitu apik ditelinga masyarakat. Meski hingga saat ini Jokowi sendiri tidak pernah menguraikan apa yang dimaksud dengan revolusi mental tersebut. Masyarakat sendiri pun tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan revolusi mental (hlm. 13). Revolusi mental hanya menjadi gerakan tanpa arah, kosong makna, hanya rangkaian slogan yang enak didengar dan pahit realitanya.
Menarik kemudian untuk menggabubgkan dua frasa dari tokoh bangsa ini. Yang satu sebagai revolusi mental dan yang satu lagi sebagai pembanding yakni revolusi moral. Maka dari itu penulis mencoba mengkolaborasikan dua buah fikiran putra terbaik bangsa ini dengan nama “Revolusi Peradaban’’.  Revolusi Peradaban diharapakan menjadi nafas baru sebagai respon atas carut- marutnya kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara di republic ini. Di sini penulis mencoba memasukan frasa revolusi mnetal ala Jokowi dengan meleburnya dengan buah fikiran dari Amin Rais yakni Revolusi moral.
Revolusi peradaban mengambil  nilai- nilai luhur bangsa ini yaitu berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong sebagai nafas utama pembangun bangsa dengan semangat inilah kemudian akan tumbuh sikap mental anak bangsa yang kuat dan tidak mudah menjual ideologinya dengan begitu saja, selain itu sikap mentalpun harus di dukung dengan sikap moral yang kuat. Sebab hasil nyata dari ilmu adalah sebuah tindakan yang terwujud alam sikap dan perilaku manusia. Sehingga perpaduan antara mental dan moralitas diharapkan bangsa Indonesia tidak hanya mampu menimbang mana yang benar dan salah namun juga dapat menimbang mana yang baik dan buruk. Dengan perpaduan inilah maka akan lahir generasi pencerah peradaban, tidajk hanya mempunyai pemikiran yang tajam, tetapi dibarengi dengan sikap kuat tak mudah goyah akan iming-iming harta dan kekuasaan namun juga dapat menunjukan akhlatul karimah sebagai pengejewantahan nilai-nilai luhur yang bangsa ini.
Qurniawan Rusli

Minggu, 24 Februari 2019

IMM dalam Perspektif Naruto


dalam prosesi perkuliahan tidak akan pernah terlepaskan dalam hal organisasi. organisasi bukan merupakan hal yang asing bagi para masyarakat intelektual di dunia kampus. ibarat dua sisi mata uang kampus dan organisasi tidak akan bisa terpisahkan namun satu padu satu dengan yang lainnya. seiring berjalanya waktu, mahasiswa mulai sadar akan petingnya berserikat dan berkumpul dan mengelurakan pendapat di muka umum, itu bukan serta merta amanah undang-undang namun merupakan bagian dari prosesi pencarian jati diri.

penempahan diri dalam organisasi amatlah penting, sedikit menyinggung cuitan Bapak Ir.H.Joko widodo dalam sebuat kesempatan mengingtakan akan pentingnya revolusi mental bagi para pelajar dan mahsiswa. saya sendiri secara pribadi dapat menarik benang merah dari apa yang orang nomor satu RI ini sampiakan dengan hubunganya dengan penambahan diri dan mental di organisasi. organisasi bisa saja menjadi pelabuhan bagi para aktor kampus dalam menempah mental mereka untuk persiapan di hari esok. bagaimanpun itu hanya sebuah spekulasi, rumus sederhananya adalah " sering terbentur akan membuat kita terbentuk".

bagi penulis secaa pribadi sebagai orang yang pernah mengikrakan diri untuk tidak akan menyentuh yang namanya organisasi sejak masa SMA, namun akhirnya tetap kepincut dan menjadi pengurus di organisasi mahasiswa yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
IMM merupakan wadah yang tepat dalam mengembangkan kemampuan spiritual, intelektual dan humanistas sebagai trikompetensi dasar dan utama yang mesti dipadukan dan dan di internalisasikan dalam segenap jiwa dan raga kader IMM. Namun bukanlah hal yang mudah dalam memadukan hal itu, latar belakang dari kader-kader yang plural menyebabkan IMM sangat majemuk tapi dalam satu nafas dalam bingkai fastabikhul khaerat.

melalui secuil pengetahuan penulis terhadap IMM penulis akan mencoba membagi beberapa karaktristik kader dalam nuansa anime jepang yakni "Naruto". dari wikipedia menambahkan naruto adalah dalah sebuah serial manga  karya masasi kashimoto yang diadaptasi menjadi serial anime. Manga Naruto bercerita seputar kehidupan tokoh utamanya, Naruot Uzumaki , seorang ninja yang hiperaktif, periang, dan ambisius yang ingin mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan gelar Hokage. pemimpin dan ninja terkuat di desanya. 

dalam serial manga naruto ada tiga kompetensi utama yang mesti dimiliki yakni Taijutsu, Ninjutsu, dan Genjutsu. dalam kesempatan ini penulis akan menganalogikan kader-kader IMM menurut jutsu atau kompetensi  yang dimiliki oleh naruto.
1. Taijutsu merupakan teknik yang mengoptimalkan kemampuan alami manusia pada umumnya. Taijutsu diperoleh dengan menguras energi fisik dan mental. ini hampir sama dengan karakterisitik kader yang begitu aktif dalam kepanitian, kader ini senantiasa menyumbangkan tenaga nya dalam menyuksesi seganap kegiatan IMM.
2. Ninjutsu merupakan teknik yang menggunakan chakra dan membolehkan penggunanya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mampu untuk dilakukan. tiap - tiap  orang adalah pemimpi tapi tidak semua orang dapat menjadi contoh pemimpin yang baik. di bagian kedua ini cocok dengan kader yang bisa memobilisasi massa, menggerkan dan menarik massa/ kader dengan begitu massif. kemampuan ini jarang di miliki dan hanya beberapa yang sanggup menjadi contoh dan punya daya tarik semacam ini.
3. genjutsu merupakan teknik yang menggunakan chakra pada sistem saraf lawan untuk menciptakan ilusi. ilusi merupakan buah dari fikiran. yang terkahir adalah tipikal kader pemikir yang dapat mengoptimalkan kemampuan fikirannya dalam mengonsep dam membuat peta-peta gambaran apa saja yang akan dilaksanakan.

Rene Descartes pernah berkata "De Omnibus  Dubitandum", yang artinya  Segala Sesuatu Harus Diragukan.  namum bagi penulis secara pribadi jangan  ada keraguan dalam ber-IMM. memanng ber-IMM tidak pernah menajdikan kita lebih suci atau hebat dari orang lain, namun dengan ber-IMM kita belajar untuk memperabiaki diri dan mengajak orang untuk senantiasa berfastabikhul khaerat. seperti naruto dari pecundang akhirnya dapat menajadi sebuah pahlawan bagi orang-orang disekitarnya dan ingat ber-IMM adalah sebuah amanah, dan amanah tidak pernagh salah pilih pundak.

Qurniawan Rusli
Kabid Organisasi PC IMM Kab. enrekang periode 2018-2109

Jumat, 30 November 2018

IDEOLOGI PART 2

IDEOLOGI

Ketika menelisik data kontemporer, kesenjangan antara konsep ideal dengan membandingkan realitas, yang terlihat terdapat jarak yang cukup jauh, dalam sistem demokrasi misalnya, sistem kepemimpinan dipilih berdasarkan suara terbanyak, terlihat tampak menjanjikan seperti idealnya kondisi masyarakat, tetapi dibalik itu semua terdapat racun yang merusak yang ketika tidak dicegah dari awal maka bukannya keadilan, kesejahteraan, dan keamanan yang dirasakan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya yaitu tekanan, penindasan, kesewenang-wenangan, kriminalisasi dan hal-hal negatif lainnya. 

Sejarah bangsa Indonesia merekam berbagai peristiwa serupa tentang pentingnya ideologi yang dianut, ketika awal-awal kemerdekaan bangsa Indonesia, semangat nasionalisme para pejuang kemerdekaan itu dengan baik diwariskan kepada generasi berikutnya, itu terlihat ketika terjadi berbagai macam pemberontakan, baik dari dalam tubuh bangsa maupun luar tubuh bangsa (ancaman negara asing), dengan cepat dan penuh kekuatan untuk menghadapi ancaman-ancaman yang akan memecah belah persatuan bangsa.

Pada tanggal 7 Januari 1965, presiden republik Indonesia pertama, Sukarno mendeklarasikan diri untuk keluar dari keanggotaan PBB sebagai bentuk kekecewaan terhadap lembaga tertinggi dunia tersebut, pasalnya Sukarno menganggap pembentukan negara Malaysia merupakan proyek kolonialisme barat yang akan mengancam eksistensi negara republik Indonesia. (https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/gara-gara-malaysia-indonesia-keluar-dari-pbb-cCpg)

Keputusan presiden Soekarno untuk keluar dari keanggotaan PBB membuat institusi tertinggi dunia tersebut kalang kabut, selanjutnya dengan berbagai macam upaya dengan sangat berhati-hati menarik kembali negara republik Indonesia menjadi anggota PBB akhirnya berhasil (berita versi umum yang tidak di ketahui validasinya dan tanpa data fakta sejarah yang utuh), maka dimulailah sejarah baru bagi independensi pemerintahan bangsa Indonesia.

To be continued....

Rabu, 28 November 2018

IDEOLOGI PART 1


IDEOLOGI



Ideologi merupakan suatu ide atau gagasan yang menjadi landasan pemikiran manusia dalam membangun suatu peradaban, peradaban dalam lingkup ini dapat di pahami sebagai keadaan atau kebiasaan manusia yang menjadi ciri khas kumpulan manusia itu sendiri.

Oleh Antoine Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide". Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat.

Terhadap pengertian diatas dapat dipahami bahwa Ideologi sejalan dengan visi, visi adalah serangkaian rumusan gagasan yang akan dilakukan. Hal ini adalah pembentuk karakter utama dari suatu atau bahkan beberapa Bangsa. Dengan Ideologi kita dapat membedakan kelompok manusia berdasarkan kebiasaan, perilaku dan budayanya.

Beberapa jenis Ideologi yang biasa kita jumpai baik dalam pelajaran di sekolah maupun dalam pidato, seminar kebangsaan mempunyai meskipun mempunyai pengetian yang berbeda-beda akan tetapi intinya sama yaitu tentang cara pandag manusia/masyarakat terhadap sesuatu yang kemudian menjadi dasar dalam metutuskan tindakan dan sikap terhadap suatu objek. Sosialisme misalnya, 
istilah ini muncul pada Tahun 1872 yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang mengikuti Robert Owen sebagai pemikir utama atas ideologi sosialisme utopis. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisme )

Sosialisme atau sosialis adalah sistem sosial dan ekonomi yang ditandai dengan kepemilikan sosial dari alat-alat produksi dan manajemen koperasi ekonomi, serta teori politik dan gerakan yang mengarah pada pembentukan sistem tersebut. "Kepemilikan sosial" bisa merujuk ke koperasi, kepemilikan umum, kepemilikan negara, kepemilikan warga ekuitas, atau kombinasi dari semuanya. Ada banyak jenis sosialisme dan tidak ada definisi tunggal secara enskapitulasi dari mereka semua. Mereka berbeda dalam jenis kepemilikan sosial yang mereka ajukan, sejauh mana mereka bergantung pada pasar atau perencanaan, bagaimana manajemen harus diselenggarakan dalam lembaga-lembaga yang produktif, dan peran negara dalam membangun sosialisme. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisme )

Fakta sejarah telah membuktikan bahwa diantara berbagai revolusi yang terjadi di dunia selalu dilatarbelakangi oleh perjuangan ideologis, yang menuntut adanya perubahan struktur sosial masyarakat dengan harapan adanya keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Seperti misalnya fasisme di Jerman dengan cita-cita kepemimpinan yang absolut dengan prinsip kepatuhan tanpa pengecualian (Wikipedia bahasa Indonesia) dengan menggunakan militer sebagai alat untuk mempertahankan atau sebagai benteng kekuasaan, berdalih melawan musuh-musuh yang akan menghancurkan kekuasaan, dalam hal ini yang menjadi musuhnya adalah kelompok masyarakat lain yang berbeda prinsip pandangan atau ideologi di manapun berada, sehingga timbul semangat ekspansi wilayah dengan kekerasan yang menimbulkan peperangan. 

Peperangan yang terjadi dalam lingkup facisme merupakan sebuah kondisi yang seharusnya dilakukan sebagai upaya penyelarasan ideologi dengan alasan kestabilan tatanan kehidupan masyarakat dan tidak akan berhenti sebelum kelompok masyarakat yang berprinsip atau berideologi lain telah ditiadakan, akibatnya hak-hak individu akan hilang dan harus disesuaikan atau sejalan dengan ideologi kepemimpinan yang berkuasa.

Berbagai macam faktor yang mendasari lahirnya beragam ideologi diantara faktor tersebut merupakan sebuah kesatuan sistem yang menjadi kebutuhan mendasar bagi kelangsungan hidup, hak-hak dan kebutuhan rasa aman masyarakat, dalam hal mempertahankan kehidupan masyarakat yang seharusnya atau sejahtera tentu harus ditopang dengan kemampuan ekonomi yang ideal dan stabil terlebih ketika melihat sifat dasar masyarakat yang menginginkan sesuatu yang lebih dalam hal pemenuhan kebutuhan perekonomian. 


To be continued.....





Kamis, 15 November 2018


Tentang Sabar

            Hidup adalah pilihan dan setiap orang memiliki pilihan, akan tetapi tidak semua orang merupakan pemilik atas pilihannya. Kenyataan menunjukkan bahwa di dunia ini begitu banyak orang yang tidak terjebak dalam situasi dilematis terutama ketika mereka harus menentukan pilihan hidupnya, sehingga mereka dapat dengan bebas menentukan pilihan berdasarkan kehendak hati nuraninya. Akan tetapi di sisi yang lain, sebagian besar manusia menderita sedemikian rupa hanya karena merasa dirinya terjebak dalam situasi yang dilematis sehingga dia pun terpaksa menempuh suatu pilihan hidup yang sebelumnya tidak pernah diinginkannya, atau dengan kata lain bahwa dia merasa pilihan hidupnya saat ini adalah sesuatu yang ia tidak miliki, sebab hal itu berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya yang memilih berdasarkan kehendak kemanusiaannya yang cenderung ingin bebas.
            Pilihan hidup adalah sesuatu yang esensial bagi manusia, betapa tidak, manusia yang dibekali dengan akal pikiran yang dengannya ia berbeda dengan makhluk lainnya. Dengan akal inilah manusia kemudian bisa membedakan sesuatu yang baik dan buruk bagi dirinya dan kehidupannya, menurut ukuran syaria’at, yang untuk selanjutnya menjadi instrumen dalam menentukan pilihan hidupnya. Harus kita akui bahwa apa pun pilihan yang kita jalani, pada hakikatnya hal itu merupakan kehendak-Nya. Karena segala sesuatu tidak mungkin terjadi, apabila Dia tidak menghendaki hal tersebut. Jadi ketika seseorang harus menentukan pilihan hidup, pada hakikatnya dia harus meyakini bahwa apa pun pilihannya, sesungguhnya hal itu sudah menjadi Sunnahtullah, terlepas dari situasi dan kondisi yang tengah ia hadapi pada saat itu, dalam artian apakah ia tengah terjebak dalam situasi yang serba dilematis, atau tidak, dan apakah ia tengah tertekan atau tidak, merasa merdeka dalam menentukannya, atau tidak, dan lain sebagainya. Untuk menjabarkan hal yang telah terurai di atas, berikut ini ada sebuah kisah yang patut untuk kita renungkan bersama, yang penulis kutip dari buku Iblis Menggugat Tuhan, karya Daud Ibn Ibrahim al-Shawni.
            Konon Raja Mahmud selama memerintah dikelilingi oleh para penjilat dan penghasut. Setiap senyum yang ia temui rasanya seperti menyimpan kebencian. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun di istana, kecuali sang putera mahkota yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri. Pemuda ini pun bisa mencium bahaya di istana, dan pada suatu hari berkata kepada ayahnya, “Ayahanda, mari kita berpura-pura bertengkar dan kita tunjukkan pertengkaran kita secara terang-terangan. Pada saat itu, mereka yang diam-diam membenci dan ingin menghancurkanmu pasti akan segera menarikku dalam rencana mereka”.
            Sang ayah awalnya sangat tidak setuju dan ragu, melihat betapa berbahayanya hal ini bagi si anak. Tapi si anak bersikeras dan akhirnya sang Raja menyetujui. Di hadapan banyak pejabat istana, sang Raja dan puteranya mulai bertengkar dan saling berteriak. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang mendekati puteranya karena ia memang dikenal amat mencintai ayahnya.
            Putera mahkota berkata, “Ayahanda, penjarakanlah aku agar para penghasut berfikir bahwa pertengkaran kita memang sungguhan. Barangkali saja pada saat itu mereka akan membuka kedok mereka padaku.”
            Lagi-lagi Raja Mahmud ragu serta tidak setuju dengan gagasan yang lebih keras seperti ini, karena ia jelas tidak ingin melihat anaknya dipenjara. Tapi sekali lagi sang anak bersikeras dan sang Raja akhirnya luluh untuk kedua kalinya. Setelah beberapa bulan mendekam di penjara, si anak mengirimkan sepucuk surat rahasia kepadanya. “Ayahanda yang tercinta, tidak ada yang percaya kalau pertengkaran kita sungguhan. Jatuhkanlah hukuman yang mengerikan buatku agar mereka lebih yakin. Suruh para prajurit yang Ayah miliki untuk mencambuk dan menghukum mati diriku. Dengan begini para pembenci Ayah pasti akan segera membelaku.”
            Ketika sang Raja menerima pesan tersebut, ia memekik ngeri. “Bagaimana mungkin kulakukan hal ini?” hari terus beganti menjadi minggu, serta minggu berganti menjadi bulan, dan bulan pun berganti menjadi tahun. Si anak tetap merana di dalam penjara sementara sang Raja masih ragu untuk menjatuhkan hukuman. Akhirnya sang anak mengirimkan pesan lagi pada ayahandanya, yakni sang raja Mahmud, “Jika ayahanda tidak segera memerintahkan agar aku dihukum cambuk, maka sia-sialah penderitaanku selama ini. Segeralah jatuhkan hukuman. Jangan sampai kelembekan hati ayah terhadapku justeru menjadi penghalang.”
            Untuk kesekian kalinya raja Mahmud dihadapkan pada situasi dilematis, dan terpaksa menuruti sebuah pilihan yang bukan dirinyalah yang merupakan pemiliknya. Ia pun terpaksa menjatuhkan hukuman, dan segera saja para pembenci sang Raja bergabung membela putera mahkota. Setelah bebas, sang putera mahkota mengumumkan pemberontakan secara terbuka; ia berjanji untuk menggantikan posisi ayahnya.
            Rakyat tentu saja mengutuk habis-habisan sang anak; tapi seluruh musuh sang Raja, baik yang terang-terangan, maupun yang sembunyi-sembunyi, dengan semangat menjilat si anak. Sementara itu, si anak juga tidak putus-putusnya mengirimkan pesan rahasia dan membeberkan segalanya pada sang Raja. Dengan demikian, sang anak berhasil melindungi ayahnya sekaligus merontokkan kekuatan oposisi.
            Rakyat yang mencintai raja Mahmud dengan segera membenci si anak, tanpa sama sekali mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Inilah salah satu keunikan hidup, di mana sebuah anugerah tampak sebagai kutukan bagi yang lain, dan sebuah pilihan mulia, rumit, beresiko tinggi, tampak seperti pengkhianatan di mata orang awam. Bahkan sebuah pilihan yang terkadang dianggap sebagai beban, karena dijalani secara terpaksa, adalah hikmah yang sangat berharga.
            Raja Mahmud adalah salah satu contoh dari banyak orang yang berkali-kali dihadapkan pada situasi dilematis dalam menentukan pilihannya, bahkan setiap sudut-sudut kehidupannya, hanya berakhir dari satu kebimbangan kepada kebimbangan yang lain, dan satu kecemasan kepada kecemasan lainnya. Dia adalah satu dari sekian banyak orang yang merasa tidak memiliki atas pilihannya. Namun dia senantiasa mampu mengalahkan egonya, dan selalu berusaha menuruti kehendak mulia sang anak yang pada gilirannya mengantarkan dirinya kepada hikmah yang besar.
            Terkadang dalam hidup ini, kita merasa bahwa kitalah yang lebih mengetahui setiap perkara yang terbaik untuk hidup dan kehidupan kita. Dan selalu kita berlindung di balik statement “hidup adalah pilihan,” akan tetapi pernahkah kita mengukur kemampuan kita? Sadarkah kita bahwa sebagaimana masa depan yang selalu misterius, kita tidak memiliki pengetahuan apa pun mengenai perkara yang gaib? Sesungguhnya masa depan seseorang adalah perkara yang gaib dan hanyalah Allah swt yang maha mengetahui akan hal tersebut. Manusia hanya memiliki pilihan, akan tetapi Allah swt yang menentukan segalanya. Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kita. Hal ini senada dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an, yang artinya:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/02: 216).
            Berdasarkan ayat tersebut, dapatlah difahami bahwa kebaikan dan keburukan sebuah perkara, bukanlah sesuatu yang dapat kita ketahui dengan mudah dan secara sederhana, bila hanya mengandalkan kemampuan persepsi kita. Manusia tidaklah mengetahui apa-apa selain yang sedikit, yang diberikan-Nya dari ilmu-Nya. Justeru sebaliknya Allah-lah yang maha mengetahui akan hal tersebut. Ayat tersebut juga merupakan sebuah penegasan dari Allah swt, mengenai hakikat ujian keimanan, dan mengapa kita diuji? Bahwasanya Allah swt hanya ingin kita membuktikan keimanan kita kepada-Nya, melalui sikap sabar, syukur, tawadhu, dan tawakkal atas segala ketentuan-Nya, serta tidak menghendaki kita untuk terus berdiam diri dan pasrah total dalam menyikapi dinamika kehidupan yang kita lakoni. Sebab yang dinilai oleh Allah swt adalah usaha dan amalan kita. Atau perjuangan dan kesabaran kita.
            Dalam menjalani segala kehendak-Nya, boleh jadi kita dihadapkan pada situasi di mana kita harus menjalani pilihan secara terpaksa, sehingga kita merasa sebagai “bukan pemilik” atas pilihan tersebut. Namun itulah salah satu bentuk ujian yang harus kita jalani. Tidak akan masuk syurga orang yang belum terbukti perjuangan dan kesabarannya, dalam menghambakan diri kepada-Nya. Sesungguhnya ujian adalah sebuah keniscayaan, dan setiap manusia pasti akan melaluinya, terlepas dari bentuk ujian yang akan mereka tempuh dalam hidup dan kehidupannya. Sesungguhnya kehidupan ini dijadikan ujian oleh-Nya, agar Dia mengetahui siapa diantara manusia yang lebih baik amalnya, bukan yang lebih banyak amalnya, dan hanyalah yang lebih baik amalnya yang In Syaa Allah akan masuk syurga. Untuk menjabarkan hal ini, Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an, yang artinya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran/03: 142).
                Berdasarkan ayat di atas, dapatlah difahami bahwa beragama adalah perjuangan tiada henti. Untuk menjalani ujian-Nya dengan sabar, dan untuk memahami petunjuk-petunjuk Allah dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata. Allah swt menghendaki agar kita berusaha keras mendekatkan diri kepada-Nya, mengorbankan segala yang kita punyai dalam rangka penghambaan seorang hamba yang sepatutnya dilakukan. Siapa yang tidak mampu bersabar atas kehendak-Nya, niscaya keadaanlah yang akan memaksanya untuk bersabar.
            Saat hati berkata "INGIN", namun ALLAH berkata "TUNGGU". Saat ”AIR MATA” harus menetes, namun ALLAH berkata "TERSENYUMLAH". Saat segalanya terasa "MEMBOSANKAN", namun ALLAH berkata "TERUSLAH MELANGKAH". kita merancang, Allah juga merancang.. akan tetapi rancangan Allah jauh lebih baik.. (dikutip dari berbagai sumber).


BIDANG TABLIGH DAN KAJIAN KEISLAMAN. PC IMM EKG🐫🐫🦃🦃🦃🦃♻️♻️ฏ


MENYOAL PEMBAKARAN BENDERA TAUHID
“Agama bukanlah untuk menebar kebencian, karena puncak dari agama adalah cinta”.
(some one)





            Berkaca pada sejarah peradaban Islam, maka kita akan dihadapkan pada fakta bahwa cintalah yang kelak akan mengantarkan ajaran Islam diterima oleh sebagian besar umat manusia, tidak hanya di kalangan bangsa Arab, namun tersebar luas sampai ke belahan dunia lainnya seperti Asia, Eropa, Afrika, bahkan Amerika, dan Australia dan sebagainya. Sebagian besar kalangan umat manusia rela berbondong-bondong memeluk ajaran Islam karena telah yakin dengan kebenaran ajaran Islam dan kemuliaan akhlak Rasulullah saw.
            Sosok Rasulullah saw sebagai tokoh sentral dalam ajaran Islam dikenal luas karena kemuliaan akhlaknya, dalam memberi perlindungan dan membantu sesama yang membutuhkan. Banyak riwayat yang telah kita dapati, yang melukiskan dengan indah akan sikap kedermawanan Rasulullah saw terhadap fakir miskin. Berbagai riwayat yang masyhur kita dapati, menggambarkan hal tersebut dengan sangat gamblang, seperti ketika seorang pengemis buta non muslim yang setiap paginya duduk di sudut pasar, sembari berteriak kepada setiap orang di sekitarnya untuk menceritakan keburukan Rasulullah saw, yang mana berita tersebut tidaklah benar adanya. Sementara dia tidak mengetahui bahwasanya orang yang dihadapannya, yang menyuapinya dengan telaten dan penuh kelembutan adalah Rasulullah saw sendiri, yang senantiasa dia fitnah setiap saat. Bahkan dikisahkan bahwa kondisi ini terus berlanjut hingga beliau wafat dan pekerjaan beliau kemudian dilanjutkan oleh sahabatnya Abu Bakar RA, yang kemudian memberitahukannya bahwa orang yang selama ini memberinya makan adalah orang yang sama yang telah dia fitnah sepanjang hidupnya. Hal ini membuatnya tersadar akan kemuliaan akhlak Rasulullah saw, sehingga saat itu juga dia memutuskan untuk memeluk Islam.
            Kisah lain yang mencerminkan kemuliaan akhlak beliau, adalah mengenai seorang non muslim yang senantiasa membuang kotoran di depan pintu rumah beliau, sehingga setiap kali Rasulullah saw keluar untuk menunaikan shalat shubuh diinjaknya oleh Rasulullah saw kotoran tersebut dengan tidak sengaja sehingga hal ini cukup menyusahkan bagi beliau. Namun kemudian tidak ada dendam dalam hati yang menyeruak pada diri beliau, serta tidak ada umpatan, makian, cacian, apa lagi sumpah serapah yang keluar dari lisan beliau. Sungguh Rasulullah saw bukanlah pendendam bila hal itu menyangkut diri pribadi beliau. Bahkan dalam lanjutan riwayat tersebut, diceritakan bahwa pada akhirnya sang pelaku justru jatuh sakit dan tidak segera dijenguk oleh kaumnya, namun justru Rasulullah saw orang pertama yang menjenguknya dengan membawa cukup banyak buah tangan untuk diberikan kepada orang tersebut. Hal ini membuatnya tersadar, betapa mulianya sosok yang selama ini dia musuhi sehingga dengan sepenuh hati dia pun menyatakan ke-Islam-annya di hadapan Rasulullah saw saat itu juga. Tentunya masih sangat banyak keteladanan dari Rasulullah saw yang patut untuk kita kaji, dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud cinta kita kepadanya.
            Berbagai teladan mulia pada diri Rasulullah saw, sejatinya merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan, maka perintah Allah swt untuk mengikuti teladan beliau, telah diabadikan dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:
Terjemahnya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab/33: 21)
            Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, menyatakan bahwa pada diri Rasulullah saw terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang mukmin, untuk diikuti dalam hal berperang, kesabaran, dan keteguhannya yang masing-masing diterapkan pada tempatnya masing-masing. Dengan demikian Rasulullah saw selalu mampu bersikap bijak dalam setiap situasi apa pun, yang di dalamnya memancar indah keteladanan beliau.
            Berdasarkan ayat di atas, kita dapat memahami bahwa sesungguhnya kita senantiasa diperingati untuk selalu mengingat Allah, mencontoh Teladan pada diri Rasulullah saw, menjadi manusia yang bermoral jika ingin selamat dalam kehidupan dunia hingga akhirat.
            Kini Rasulullah saw sudah tiada lagi, namun teladan darinya hendaknya senantiasa kita hidupkan sebagai khazanah kekayaan yang tidak ternilai dengan apa pun, melengkapi sunnah-sunnahnya yang lain dan kitab suci Al-Qur’an. Sesungguhnya inilah warisan dari beliau untuk kita para umatnya yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga, menegakkan, menjunjung tinggi serta mengamalkannya sebagai wujud keberimanan kita.
            Namun saat ini dunia Islam khususnya di tanah air, sedang terluka dengan insiden pembakaran bendera tauhid pada saat perayaan hari santri nasional di Kabupaten Garut, oleh oknum Banser yang notabene merupakan bagian dari umat Islam di tanah air. Berbagai argumentasi pun dibangun untuk membenarkan tindakan batil yang mereka lakukan.
            Salah seorang pimpinan GP Anshor, melalui sebuah acara talk show di salah satu tv swasta nasional menjelaskan bahwa alasan pembakaran bendera tersebut, dikarenakan bahwa bendera tersebut adalah milik HTI, salah satu ormas terlarang di tanah air karena idenya dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa rasa cinta Banser kepada tanah air membuat anggotanya mengambil langkah antisipasi yang dinilainya demi menjaga keutuhan NKRI. Seperti tidak puas berargumen seperti itu, dia pun menyatakan bahwa yang dibakar itu hanyalah sekedar bendera yang lafadznya digunakan untuk tujuan politik, dan yang lebih miris adalah karena dia seolah menyamakan bendera tauhid dengan bendera yang digunakan oleh kaum musyrikin di masa-masa perang, sejak masa awal peradaban umat Islam.
            Ketika para pimpinan GP Anshor kukuh pada pendapatnya, bahwa bendera yang mereka bakar adalah milik HTI, maka melalui salah satu media on line, Ismail yusanto, salah seorang kader HTI menjelaskan tentang cirri khas bendera mereka. dia menjelaskan bahwa untuk bendera HTI menggunakan kain putih atau hitam dan di atasnya pun terdapat gambar bendera berikut tiangnya dengan lafadz kalimat tauhid terdapat di atasnya, kemudian tiang bendera memanjang ke bawah dan menjalin huruf “HTI” di bawah lafadz kalimat tauhid tersebut. Kesaksian dari pimpinan GP Anshor tersebut berbeda dengan informasi yang tengah beredar saat ini, belum lagi kesaksian masyarakat pengguna internet yang menyaksikan video viral tersebut, mereka mengatakan bahwa pada bendera tersebut tidak terdapat tulisan “HTI”, melainkan hanya lafadz kalimat tauhid semata. Dan kesaksian yang sama juga datang dari salah seorang pimpinan MUI yang mengungkapkan hal yang senada dengan masyarakat pengguna internet tanah air.
            Argumentasi lain yang dikemukakan oleh salah seorang pimpinan GP Anshor tersebut adalah bahwa saking cintanya mereka kepada NKRI sehingga secara spontan mereka melakukan tindakan pembakaran bendera tauhid yang mereka sebut bendera HTI tersebut, dengan tujuan agar faham yang mereka punya tidak berkembang, mengingat misinya adalah mendirikan khilafah yang berarti ancaman serius bagi NKRI. Hal ini terkesan sangat tidak rasional mengingat dalam ajaran Islam kita justru diperintahkan untuk melakukan tabayyun atas segala informasi yang kita dapati, bukan dengan mengabaikan logika sehat kita demi memuaskan segala prasangka negatif yang tidak terpuji. Terlebih lagi ormas HTI jelas-jelas telah dibubarkan melalui Perppu Ormas No. 2 Tahun 2017 dan putusan pengadilan, serta dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-30.AHA.01.08.2017 yang menjelaskan tentang Pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM. Rasa cinta tanah air, memang merupakan hal yang manusiawi, terlebih karena bangsa ini memang berhutang pada umat Islam, berdasarkan fakta sejarah yang dapat kita gali dari berbagai sumber. Namun yang perlu untuk diingat, bahwa NKRI hanyalah bagian dari kehidupan duniawi, hanya sebatas konsep materi yang tidak akan kekal serta tidak akan kita bawa ke alam akhirat, hal ini tentunya berbeda dengan kalimat tauhid yang semestinya diagungkan karena merupakan gerbang utama untuk kita memasuki agama Islam, disamping merupakan pernyataan ikrar kita untuk setia dalam naungan ajaran Islam yang mulia. Bahkan saking agungnya kalimat tauhid tersebut, Rasulullah saw sangat berharap agar pamannya, Abu Thalib mau melafadzkan kalimat tersebut di saat menjelang ajalnya, karena dengan adanya iman di dalam dada meskipun hanya sebesar biji sawi diyakini bisa menyelamatkan seseorang di akhirat kelak. Hal sebagaimana yang dikemukakan dalam sebuah riwayat, bahwa:
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Abdullah bin Abdurrahman] keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Hammad], telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Aban bin Taghlib] dari [Fudlail bin Amr] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari [Abdullah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga bagi seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar biji dzarrah. Dan tidak akan pula masuk neraka, yaitu seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya sebesar biji dzarrah." Abdullah berkata; Kemudian seseorang berkata kepada beliau, "Sesungguhnya aku merasa bangga, jika pakaianku bagus dan sandalku juga bagus." Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah menyukai keindahan. Akan tetapi yang dimaksud kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia."
            Sebagian Ahli Ilmi berkata terkait tafsir hadits ini, "Tidak akan pula masuk neraka, yaitu seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya sebesar biji dzarrah." Maknanya, tidak akan kekal di dalam neraka.

            Hal terakhir yang dikemukakan oleh salah seorang pimpinan GP Anshor tersebut, dan inilah yang paling rancu, yakni dengan menyatakan bahwa yang dibakar tersebut tidak lebih dari sekedar bendera yang mana hal itu tidak hanya digunakan oleh umat muslim, tapi juga oleh kaum musyrikin dari kalangan bangsa Arab maupun bangsa lainnya, sehingga menurutnya insiden pembakaran bendera tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Hal ini terkesan sangat menyederhanakan masalah, dan bahkan seolah buta sejarah. Dalam salah satu riwayat dari Abdullah bin Abbas ra. Menyampaikan bahwa panji perang Rasulullah saw. (al-Raayah) berwarna hitam, dan bendera negara (al-Liwa’) berwarna putih. (HR. At-Tirmidzi). Hadits tersebut menjelaskan tentang keberadaan bendera tauhid di masa Rasulullah saw, yang tentu saja berbeda dengan bendera toghut. Menurut beberapa referensi, tertulis di atas bendera ini kalimat tauhid. Lagi pula, sudah lazim kita fahami bahwa meskipun bendera hanyalah simbol, namun yang menjadi esensinya adalah makna di balik simbol tersebut, antara bendera tauhid dan bendera kaum musyrikin tentulah membawa pesan yang tidak sama. Apa bila kita memaksakannya atau memaknainya untuk sama, maka itu berarti merendahkan esensi dari kalimat tauhid tersebut, lantas apa bedanya kita dengan bapak Ahok yang melecehkan QS. Al-Maidah:51..? sungguh sangat ironis, demi membela tindakan yang keliru kemudian membangun argumentasi rendah seperti itu. Lalu untuk apa kemudian menyemarakkan kajian tauhid secara intens, kalau toh ilmu yang didapat darinya tidak untuk diamalkan, namun justru dimanfaatkan untuk melecehkan kalimat tauhid. Sungguh logika seperti di atas adalah lemah dan tidak berdasar. Kemudian yang tidak kalah penting untuk difahami, bahwa ketika bermunculan kelompok menyimpang yang menggunakan bendera tauhid untuk menarik hati umat Islam, tidak menghilangkan esensi dari kalimat tauhid yang tertulis di atasnya. Sehingga kemarahan terhadap suatu kelompok, terlebih terhadap sesama kelompok Islam disebabkan karena adanya hal yang dianggap salah padanya semestinya tidak menjadikan kita gelap mata lalu melakukan tindakan yang melecehkan syiar-syiar Islam. Semestinya kebenaran itu dihormati walaupun datang dari musuh yang sangat dibenci sekalipun.
            Adalah Mush’ab bin Umair, seorang sahabat Rasulullah yang rela syahid, secara mengenaskan demi mempertahankan bendera tauhid dalam perang Uhud. Di kisahkan bahwa dalam perang Uhud beliau adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera. Dalam perang tersebut, ketika situasi mulai genting akibat ketidak taatan kaum muslimin terhadap strategi perang yang disepakati di antara mereka, maka Mush’ab bin Umair mengacungkan bendera setinggi-tingginya sembari bertakbir sekeras-kerasnya lalu maju menyerang musuh. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian musuh kepadanya sehingga Rasulullah saw bisa selamat dari kepungan mereka, namun tiba-tiba datang musuh yang bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda dan langsung menebas tangan Mush’ab bin Umair hingga putus. Maka dia lalu memegang bendera tersebut dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab bin Umair lalu membungkuk ke arah bendera, dan dengan pangkal lengannya meraihnya ke dadanya, hingga musuh kembali menyerangnya dengan tombak dan menusuknya hingga tombak itu pun patah dan dia pun gugur sebagai syuhada sementara itu, bendera jatuh di medan perang seketika.
            Sungguh ironis memang, ketika di masa Rasulullah orang-orang mukmin senantiasa memuliakan kalimat tauhid, bahkan ada yang sampai rela mengorbankan nyawanya demi memuliakannya, sekelompok umat Islam di negeri kita saat ini dengan bertingkah pongah, membakar bendera tauhid tanpa merasa bersalah sedikitpun dan tanpa merasa perlu meminta maaf kepada sesama umat Islam. Hal yang sangat kontradiktif, dan tidak mencerminkan sikap toleransi antar saudara se-iman sendiri, sementara terhadap pihak-pihak yang jelas-jelas memusuhi umat Islam mereka tidak pernah mengambil tindakan apa pun. Sementara itu di sisi lain, terhadap OPM di Papua yang senantiasa melakukan pengibaran bendera bintang kejora, serta membakar bendera merah putih, tidak pernah sekalipun mereka mengambil tindakan padahal dalam pengakuannya mereka selalu mengklaim paling Pancasilais, dan paling cinta NKRI. Mengapa kemudian sikap garang itu hanya ditujukan kepada sesama saudara sendiri, sementara terhadap kelompok lain di luar Islam yang eksistensinya lebih berpotensi mengancam keutuhan NKRI, selalu saja luput dari perhatian mereka tanpa penjelasan dan klarifikasi sedikitpun. Lantas apa arti sesungguhnya dari semboyan NKRI harga mati itu? Tindakan lain yang paling keji yang senantiasa mereka lakukan adalah kebiasaan membubarkan pengajian-pengajian yang dinilai tidak sefaham dengan corak pemikiran mereka, sungguh merupakan alasan yang dibuat-buat. Selalu merasa paling benar sendiri, paling toleran, paling moderat, paling pancasilais, paling cinta NKRI, sungguh merupakan klaim-klaim kosong tanpa makna dan paling jahat. Kita juga tidak bisa melupakan begitu saja, bagaimana arogansi mereka menghalang-halangi dan membubarkan pengajian yang dibawakan oleh seorang ustadz kondang dari kalangan mereka sendiri. Sungguh tindakan yang seperti itu, bukanlah cara-cara Islam dalam menyikapi perbedaan pandangan, serta merupakan tindakan brutal yang jauh dari tuntunan ajaran Islam.
            Seolah tidak ingin tertinggal dalam polemik soal pembakaran bendera tauhid, seorang petinggi PBNU yang merupakan induk organisasi Banser, turut memberikan klarifikasi soal insiden tersebut namun setali tiga uang dengan pernyataan sebelumnya, hal ini tidaklah mendatangkan kesejukan di tengah-tengah masyarakat yang sedang terluka dengan tindakan tidak etis tersebut. Muhammad Sulton Fatoni, salah satu petinggi di PBNU, melalui salah satu media on line nasional, menjelaskan bahwa insiden pembakaran bendera tauhid tersebut justru untuk memuliakan kalimat tauhid dari penyalahgunaaan yang tidak semestinya, karena oleh ormas tertentu justru digunakan untuk tujuan politis. Maka secara tegas ia menegaskan bahwa hal itu adalah wajar sebagaimana mengamankan Al-Qur’an yang rusak.
            Tentunya semua orang bisa berargumen dengan lugas untuk membenarkan tindakan yang telah diambilnya, terlepas apakah hal itu keliru atau tidak maka di sinilah perlu kearifan dan kerendahan hati untuk secara jujur pada diri sendiri dan orang lain mengakui kesalahan bila hal itu memang salah. Terkait dengan alasan bahwa pembakaran bendera tauhid adalah untuk memuliakan kalimat tauhid yang termuat di dalamnya, sebagaimana mengamankan Al-Qur’an yang rusak, maka yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah bendera tersebut dalam kondisi rusak sehingga perlu diamankan dengan cara dibakar? Bukankah bendera tersebut dirampas dari pemiliknya dan tidak dalam kondisi tercecer? Lagi pula kalau sekiranya bendera tersebut dalam kondisi rusak atau tercecer di tanah lapang dan tanpa pemiliknya, sehingga merasa perlu untuk diamankan dengan cara dibakar sebab tidak ada minat untuk memiliki, maka pada saat insiden pembakaran kenapa tidak dilakukan dengan khidmat dan di tempat tertutup untuk menghindari fitnah? Mengapa harus di tempat terbuka dengan gaya pongah sebagaimana kepongahan rakyat Israel saat menyaksikan tentaranya memborbardir rakyat Palestina yang tak berdosa? Belum lagi, apa maksudnya sehingga insiden tersebut mesti direkam dalam bentuk video dan diviralkan ke seluruh pelosok negeri? Kiranya perlu untuk kita mendengar dan mematuhi nasehat dari Cak Anam, beliau juga salah seorang petinggi PBNU, yang mengatakan bahwa pembakaran bendera tauhid apa pun alasannya itu jelas menunjukkan bahwa kita adalah umat yang lemah, mudah diadu domba dengan saudara seiman sendiri padahal sebagai umat Islam kita harus solid dan bersatu untuk kemudian menjadi kuat dan menjadi umat yang terbaik, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Kalau di Negara kita saja kita tidak mampu bersatu, tidak peduli satu sama lain, bagaimana kita bisa menolong saudara seiman kita di belahan bumi lain? Hal ini tentunya patut untuk kita renungkan bersama.
            PBNU, bukanlah merupakan organisasi kacangan, bukan ormas yang baru lahir sejak kemarin sore, namun ia telah lama ada, bahkan jauh sebelum keberadaannya, menurut penuturan Ustadz Adi Hidayat bahwa KH. Hasyim Asy’ari dan sahabat-sahabatnya, serta murid-muridnya, yang kelak masuk dalam jajaran pimpinan PBNU generasi awal, adalah orang-orang yang lekat dengan tradisi pesantren di mana kata dan perbuatannya senantiasa salaras, di mana ilmu dan akhlaknya senantiasa berpadu merangkai indah sosok muslim dan muslimah sejati. Belum lagi dengan tradisi agung lainnya berupa kajian dan penulisan kitab kuning yang begitu intens, penghormatan terhadap para ulama, apresiasi terhadap simbol-simbol keagamaan, welas asih terhadap sesama, dan berbagai perangai agung lainnya turut mewarnai ormas ini di masa-masa awal. Namun sekali lagi untuk saat ini adalah hal yang ironis karena sebagian dari tradisi agung tersebut sepertinya mulai ditinggalkan oleh sebagian dari kalangan mereka sendiri.
            Di saat beberapa oknum dari kalangan mereka melakukan tindakan tidak terpuji, bukannya dinasehati atau dihukum dengan cara yang hikmah justru yang kita saksikan adalah upaya untuk membela teman-teman mereka dengan berbagai alasan yang sebenarnya tidak perlu untuk dikemukakan karena hanya akan menampakkan sikap inkonsistensi mereka dalam mengambil sikap. Apa susahnya mengakui tindakan yang jelas-jelas keliru dan berusaha untuk menjadi lebih baik kedepannya? Mengapa tidak mencontoh pada KH. Hasyim Asy’ari yang notabene orang yang paling mereka hormati sebagai panutan, dalam mengambil sikap untuk kasus yang serupa? Mengapa harus berargumen “rendah” sedemikian rupa untuk sesuatu yang tidak perlu? Ketimbang menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempertahankan kesalahan, kenapa kemudian tidak menertibkan anggotanya yang terkenal suka membubarkan pengajian sesama kaum muslim, bahkan sesama anggota kelompok sendiri? Sungguh fenomena seperti ini, menunjukkan bahwa cita-cita pendirinya telah begitu jauh tertinggal di belakang, yang seharusnya hal itu diraih kembali untuk diwujudkan dalam menjalankan roda organisasi sehingga kemudian tidak salah arah dalam langkahnya ke depan.
            Atas segala polemik yang ada, kita mestinya prihatin dengan kondisi umat Islam yang terbingkai dalam banyak kelompok dan terlalu sering tidak dewasa dalam menyikapi perbedaan yang ada, kondisi seperti ini semestinya tidak dibiarkan berlarut-larut. Dan kita sebagai bagian dari umat Islam, harus senantiasa bermuhasabah. Masihkah kita seiman, masihkah kita mengakui tuhan yang sama, atau jangan-jangan kita telah menuhankan ego kita masing-masing sebagai berhala di atas segalanya yang mana kita semua tahu dan sadar bahwasanya hal itu keliru, namun tiada keinginan untuk berhijrah? Jika demikian maka untaian kalimat yang tepat untuk kita renungi kembali, datang dari salah seorang cendekiawan muslim, yakni Maman A. Majid Binfas, beliau mengatakan, “Pintar tapi tak cerdas..!, bermuka-muka tapi tak bermuka, beretika tapi tidak berakhlak”.

Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman. PC IMM ENREKANG