Translate

Senin, 16 Februari 2015

TIGA KRITERIA BODOH DALAM KEBODOHAN

Irfan Iskandar

BULETIN ILMU IMM KOM BARAKA, EDISI FEBRUARI 2015
    Oleh : Irfan Iskandar

Ide awal dari tulisan ini, berawal dari obrolan ringan dan singkat antara penulis, Immawan Muh. Hamka, dan Immawati Qamariah Bulan Fitriah (keduanya dari unsur Pimpinan Cabang IMM Kab. Enrekang dan Pimpinan Daerah IMM Sulselbar), seusai acara pembukaan Darul Arqam Dasar, Ang. IX pada tanggal 29 Desember 2014 M, di Mts. Muhammadiyah Pasui, yang saat itu menjadi lokasi pengkaderan.

Obrolan tersebut berjalan cukup akrab dan hangat, walau terjalin begitu singkat, namun cukup berarti bagi diri penulis. Obrolan tersebut awal mulanya dibuka oleh Immawan Muh. Hamka, dengan mempertanyakan identitas seorang facebooker yang menulis status untuk mengajak pengguna facebook lainnya berdiskusi, dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik dan dilematis. Mulanya banyak juga pengguna situs jejaring sosial ini yang mencoba menjawab sesuai kapasitas mereka masing-masing, namun tidak sedikit pula yang hanya sekedar ingin “menyetor” komentar, alias “numpang lewat” dalam status tersebut. Ketegangan mulai berkembang, ketika salah seorang pengguna facebook berhasil memberikan jawaban terbaik dalam diskusi on line tersebut, akan tetapi si pemilik status masih saja berapologi hendak mempertahankan gagasannya, yang kemudian berujung pada insiden saling menghujat antara sang pemilik status dengan Immawan Muh. Hamka.


Terkait dengan status yang diunggah oleh sang pemilik akun anonim tersebut, kedua sahabat ini mengemukakan tentang fenomena tiga kriteria bodoh dalam kebodohan, yang terdiri dari:

1. Tidak mau mencari tahu.
Ini merupakan bentuk kebodohan yang sangat umum terjadi di kalangan masyarakat luas, pada dasarnya hal seperti ini lebih disebabkan oleh rasa malas atau kelalaian untuk menghilangkan kebodohan dengan cara belajar, terkadang seseorang tidak mau mencari tahu pengetahuan, disebabkan karena adanya kesulitan dan kendala dalam akses informasi, akan tetapi akan sangat riskan jika hal seperti ini masih dijadikan alasan, mengingat kita telah hidup di zaman informasi yang mana arus informasi begitu deras mengalir dan kita dapat mengaksesnya dengan begitu mudah. Dalam hal ini, Imam al-Muqarri Rahimahumullah mengatakan bahwa, “Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada para ulama untuk menjelaskan hukum-hukum (kepada ahlinya). Maka, tidaklah diterima kebodohan seseorang yang memungkinkan baginya untuk mempelajarinya”. (Al-Qawa’id, juz 2, h. 412). Hal yang sama, ditegaskan pula oleh Imam Suyuthi Rahimahullah, bahwa, “Setiap orang yang tidak mengetahui mengenai sesuatu yang telah diharamkan dan diketahui oleh mayoritas masyarakat, dia tidak dimaafkan, kecuali orang tersebut baru mengenal Islam atau hidup di daerah terpencil yang sulit mengetahui hal tersebut”. (Al-Asybah
wa an-Nazhair, h. 220). Jadi haruskah kebodohan seperti ini dimaafkan? Cobalah fikirkan hal itu!


2. Sudah tahu salah, tapi masih dilakukan.
Inilah bentuk kebodohan yang tidak dapat dimaafkan, sebab orang yang demikian mampu memahami dan tidak menutup kemungkinan memiliki pengetahuan yang mapan akan tetapi menganiaya diri sendiri, dengan melakukan tindakan yang 
jelas keliru. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Mengatakan: “orang yang meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan (melaksanakan sesuatu yang haram) bukan berdasarkan keyakinan dan bukan pula karena kebodohan yang dapat dimaafkan, tetapi karena kebodohan dan berpaling dari kewajibannya mencari ilmu dengan 
kemampuan yang ada pada dirinya, atau dia telah mendengar diwajibkannya hal ini dan diharamkannya hal itu dan dia tidak melaksanakannya karena dia berpaling dan bukan karena keingkarannya pada kerasulan, kedua bentuk penyimpangan ini banyak terjadi karena meninggalkan kewajiban mencari ilmu yang diperintahkan kepadanya hingga dia meninggakan kewajiban dan melakukan larangan tanpa mengetahui bahwa perbuatan itu telah diwajibkan dan yang lain diharamkan, atau khithab telah sampai kepadanya dan dia tidak berusaha mengikutinya karena fanatik terhadap madzhabnya atau karena mengikuti hawa nafsunya, maka tindakan ini telah meninggalkan keyakinan yang diwajibkan tanpa alasan syar’i”. (Majmu al-Fatawa, juz 22, h. 16). Hal senada, juga disampaikan oleh Ibnu al-Luham (seorang ahli ushul fikih) mengatakan, “jika kami mengatakan bahwa orang bodoh dapat dimaafkan, maka yang kami maksudkan dengan pernyataan ini adalah apabila dia tidak lalai dan tidak meremehkan dalam mempelajari hukum. Sedangkan apabila dia lalai, maka dia tidak dimaafkan”. (Syadzarat adz-Dzahab, juz 7, h. 31).
Jadi, berdasarkan gagasan kedua ulama di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa orang yang mengetahui sesuatu tetapi tidak diamalkannya, maka dia sama saja telah mencampakkan keyakinannya, tidak menghargai akal dan hati nuraninya, serta merupakan bentuk pelecehan terhadap syari’at, disamping tentunya menganiaya diri sendiri.


3. Menyalahkan sesuatu yang benar (menolak kebenaran).
Bentuk kebodohan yang satu ini, merupakan hal yang paling fatal, karena tentunya merupakan bentuk kesombongan yang nyata. Kita tentunya menyadari bahwa hakikat dari kesombongan, adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw, bahwa Al-kibru (kesombongan) itu adalah: 
الْكِبْرُ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. Adapun batharul haq artinya mengingkari kebenaran dan menolaknya. Sedang ghomthunaas artinya meremehkan mereka (manusia).
Kemudian dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa:
Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda yang artinya:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: 
“Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan 
keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu).
Dengan memahami kedua hadits di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran, bahwa, hakikat dari kesombongan adalah menolak kebenaran, serta merendahkan orang lain, sehingga Allah swt sangat membenci sifat seperti ini, selain itu kesombongan adalah salah satu dosa terbesar yang langsung diancam dengan siksaan api neraka oleh-Nya, walaupun kesombongan tersebut hanyalah sebesar biji dzarrah. Kesombongan adalah bentuk kebodohan yang tidak dapat dimaafkan, sampai pelakunya bertaubat, dengan taubatan nasuha, karena sesungguhnya Allah maha pengampun, lagi maha mulia. Dosa yang tidak diampuni oleh Allah swt hanyalah dosa syirik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bodoh merupakan kata sifat yang merujuk pada seseorang yang tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, atau tidak dapat memahami sesuatu dengan cara (penjelasan) yang biasa.
Sedangkan kebodohan merupakan format kata benda dari kata sifat bodoh, 
yang berarti bentuk kebodohan, sifat-sifat bodoh, indikator dari kategori bodoh.
Sering kita mendengar ungkapan bahwa, terkadang merasa bodoh, itu baik, demi mengikis kebanggaan dalam diri, karena hal tersebut berpotensi membuat seseorang menjadi sombong dan angkuh serta senantiasa membangga-banggakan diri. Seorang kakanda kita, yang juga dari unsur Pimpinan Cabang IMM Kota Parepare, yakni Immawati Sarina, pernah berpesan, bahwa: “jangan merasa bangga pada diri, karena kebanggaan pada diri, akan menjadi jalan untuk bersemayamnya sikap sombong dan angkuh dalam hati”. Akan tetapi yang perlu untuk difahami bahwa “bodoh” dalam hal ini, bukanlah bodoh dalam artian yang sebenarnya akan tetapi maksud sebenarnya adalah “rendah hati”, dan itu sangatlah berbeda dengan sifat bodoh.
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna yang dibekali oleh akal, hendaknya memerdekakan diri dari sifat bodoh, terlebih begitu banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk menggunakan potensi akal pikirannya demi memahami alam semesta dan ciptaan-Nya yang lain, misalnya dalam Q.S. al-Baqarah/2: 164, sebagai berikut:
Terjemahnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah swt, memiliki kekuasaan dan kebesaran melalui ciptaan-Nya, dan hanya orang-orang yang menggunakan potensi akalnya untuk berfikir yang dapat menangkap isyarat itu. Dengan segenap kemampuan potensi yang diberikan kepada manusia, maka dituntut untuk memikirkan ciptaan Allah swt agar manusia selalu dapat berjalan di muka bumi sesuai petunjuk Allah. Keimanan dan keislaman seseorang dipengaruhi oleh kualitas penggunaan potensi fikirnya. Kualitas Iman dan Islam seseorang dibangun dalam konstruksi pemikiran yang menjadi nalar kepribadian. Henry La Mans yang dijelaskan dengan pandangan Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw menegaskan kekafiran tak lebih dari hasil suatu kekurangan daya fikir manusia. Pandangan ini mendeskripsikan bahwa ketauhidan dapat teguh melalui proses berfikir yang benar dan tepat.
Semoga tulisan yang sederhana ini bisa memotivasi kita semua, untuk senantiasa memperbaiki diri, agar menjadi sosok yang bermanfaat di tengah-tengah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, sebagaimana sabda Nabi saw, yang artinya bahwa: “sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama”. (H.R. Muslim).
“Sebaik-baiknya saya, orang lain jauh lebih baik dan seburuk-buruknya orang lain, diri saya jauh lebih buruk”. Bentuk Muhasabah. (someone)


Editor : Ilham Kamba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar