Translate

Kamis, 09 November 2017

IMM dalam pusaran waktu

             

Hasil gambar untuk gambar logo terbaru IMM 
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau lebih akrab disebut dengan nama IMM. adalah salah satu organisasi kemahasiwaaan yang berada di kabupaten Enrekang, yang bercokol atau berbasis di kampus Muhammadiyah leboh tepatnya STKIP Muhammadiyah Enrekang. digelari IMMawan untuk kader/anggota yang berjenis kelamin laki-laki dan IMMawati untuk kadernya yang berjenis kelamin Perempuan. menjadikan IMM sebagai organisasi yang punya ciri khassnya tersendiri dibanding dengan organisasi mahasiswa yang lain. Mungkin ,,, bagi sebagain orang akan sangat asing rasanya mendengar nama panggilanb IMMawan/IMMawati tapi bagi kadernya itu adalah jati diri mereka sebagai  kader IMM dan kader persyerikatan muhammadiyah.

           "tak ada gading yang tak retak" pepatah lama yang mungkin sudah usang tetapi maknanya tidak akan pernah lapuk dimakan usia. begitulah kiranya penulis menggambarkan IMM sebagai organiasai Kemahasiswaaan sarat dengan intrik dan problematika yang menuntut untuk segera diselesaikan. orang lahir dengan masalahnya sendiri begitu juga organisasi punya segudang masalah yang butuh pemecahan dan solusi taktis, strategis didalam kehidupan yang dinamis. ber-IMM adalah sebuah pilihan, menetukan pilihan maka harus siap menangung segala resiko yang akan diterima nantinya. bagi seorang kader IMM agaknya keliru jika menilai masalah yang ada di internal IMM harus di abaikan. tetapi penulis melihat agaknya masih banyak kader yang kemudian menutup diri untuk memcoba mencari alternatif solusi dari segala penyelasian masalah yang ada.

      seiring dengan bergulirnya pusaran waktu, maka dinamika dalam ber-IMM pun akan semakin kompleks. dengan mengusung TRILOGI IMM (Spritualitas,Intelektualitas,Humanitas) sebagai marwah gerakan dan harusnya menjadi jati diri kader IMM. tetapi bagi sebagaian kader itu urung untuk dilaksanakan.
   
      Ambilah contoh misalnya Intelektual dari apa yang penulis amati selama ber-IMM kajian, dan diskusi ilmiah sangat intens dilakukan disetiap kesempatan, baik itu dalam nuansa follow up, pesantrren kader, ataupun paradigma school. itulah sedikit gambaran wadah tempat kader berdiskusi, saling menambah ilmu, wawasan dan pengetahuan. tapi miris rasanya ketika melihat realita yang ada justru mahasiswa sekarang lebih asik melirik warung kopi ketimbang melirik buku, lebih asyik menjual retorika di jalanan ketimpang berdiskusi di forum nasional maupun internasional. ada semacam kesombongan yang menjangkiti para mahasiswa sekarang dengan beranggapan diri lebih hebat sehingga untuk melangkahkan kaki ke forum diskusi urung untuk dilaksanakan. inilah yang penulis khawatirkan jangan sampai ditubuh internal IMM budaya keilmuan tergerus dengan berbagai macam godaan duniawai sehingga menyilaukan mata kader IMM untuk tetap menambah khasanah keilmuan yang dimiliki.

     Rasanya apa yang menjadi kekhawtiran penulis sudah nyata terpampang di depan mata. hal ini ditandai dengan banyaknya kursi kosong yang menghiasi saat kajian dilaksanakan. gengsinya beberapa kader  berbaur dengan para kader yang baru bergabung dengan menganggap diri lebih hebat hingga merasa bukan lagi kelasnya mengikuti kajian bersma kader muda. untuk mengatasi masalah itu dirasa perlu kesadaran dalam diri masing-masing untuk berbenah memperbaiki hati agar kesombongan seperi itu bisa diatasi sedinih mungkin. dan penulis optimis kader IMM akan senantiasa berFastabikhul khaerat berlomba lomba dalam kebaikan baikuntuk menjadi mentari yang senantiasa menyinari bangsa ini. dan itu dimulai dari kajian dan diskusi kecil kecilan.

"Anggun  dalam Moral, Unggul dalam Intelektual"

Jayalah IMM ku ....
Jayalah Ikatan ku ....


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar