Translate

Sabtu, 30 Desember 2017

RUANG TABLIGH; DAKWAH BIL QALAM; GERAKAN LITERASI



Ruang Tabligh
Ini adalah salah satu program kerja dari bidang tabligh PC. IMM ENREKANG, semoga bermanfaat dan bisa menambah khazanah pengetahuan keislaman kita semua. In syaa Allah akan hadir secara berkala. mohon doa dan dukungannya.


PERGUMULAN DIANTARA TIGA UMMAT BESAR
            Sejarah seharusnya membuat kita belajar, membuat kita sadar tentang arah masa depan kita. Sejarah harusnya memberi kita arah untuk menjadi lebih baik, lebih cerdas mengambil langkah di masa kini dan masa depan, sebagaimana yang dikatakan oleh Pearl Buck bahwa, “ jika ingin tahu masa kini, maka kamu harus melihat masa lalu”.
            Sejarah seharusnya menjadi sumber motivasi bagi siapa saja yang mempelajarinya. Belajar sejarah sesungguhnya bukan mempelajari masa lalu, tetapi bagaimana merancang masa depan. Dengan sejarah kita bisa melihat masa depan. Hal ini seakan mendapat pembenaran dari beberapa ahli yang pernah meneliti kitab suci Al-Qur’an, yang 75% isinya adalah sejarah. Sejarah yang dalam pengungkapannya berupa kisah para nabi dan rasul Allah, serta kisah-kisah ummat terdahulu. Salah satu kisah yang paling monumental yang diabadikan oleh Allah swt, di dalam Al-Qur’an, yakni sejarah pergumulan diantara tiga ummat besar.
            Di dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman, yang artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah: 120)
            Dalam ayat tersebut, tergambar jelas betapa dingin dan rumitnya hubungan diantara tiga ummat besar, dari tiga Rasul besar, yang masing-masing dibekali tiga kitab besar, yang kesemuanya bersumber dari Dzat yang satu, Yang Maha Besar. Ajaran yang bersumber dari Dzat yang satu disikapi berbeda oleh masing-masing ummatnya.
            Ummat Yahudi merasa paling unggul tidak mau menerima ummat Nasrani. Sementara ummat Nasrani membela diri, dan ketika datang ummat Islam diantara mereka, mereka pun segera menolaknya dengan caranya masing-masing. Pertanyaannya adalah, mengapa ketiga ummat yang bersaudara ini memaksakan kehendaknya masing-masing? Bukankah ketiga-tiganya oleh Allah swt dibekali akal pikiran untuk menjalani kehidupannya sendiri-sendiri?
            Ajaran yang dimaksud di sini adalah risalah tauhid, risalah yang pernah dibawa oleh seluruh nabi dan rasul sejak dari nabi Adam As hingga nabi Muhammad saw, sebagaimana yang disinyalir di dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl: 36, yang artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
            Berdasarkan ayat di atas, dapat difahami bahwa Allah swt telah mengutus para nabi dan rasul kepada setiap ummat manusia yang pernah hidup di muka bumi ini, dari kalangan mereka sendiri. Diutusnya para nabi dan rasul tersebut bertujuan untuk mengajak umat manusia kembali kepada fitrahnya, yakni berupa fitrah ketauhidan, yang pernah diikrarkan oleh seluruh ummat manusia ketika di alam rahim. (QS. 7: 172). Tauhid adalah tema sentral dalam al-Qur'an, hampir semua pembahasan selalu mengarah kepada tauhid-pengEsaan Allah­, baik masalah ibadah maupun masalah sosial. Masalah ini memang sangat krusial sebab tauhidlah inti dari semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul sejak nabi Adam As. hingga nabi Muhammad Saw. Kemudian, inti dari risalah tauhid tersebut, yakni direfleksikan langsung oleh Allah swt dengan kalimat, “Sembahlah Allah swt, dan jauhilah thaghut itu”. Menurut jumhur ulama, thaghut adalah syaithon dan apa saja yang disembah, selain Allah swt. Selain itu, dalam ayat ini, Allah juga menegaskan bahwa bagi mereka yang menginginkan hidayah dan berusaha untuk mencarinya maka mereka akan diberikan hidayah oleh-Nya, dan demikian pula sebaliknya mereka yang hatinya cenderung kepada kesesatan maka mereka akan memperoleh kesesatan yang diusahakannya itu. Maka Allah swt menutup ayat ini dengan ajakan untuk berjalan di muka bumi, menelusuri jejak-jejak peradaban ummat terdahulu dan melihat bagaimana akhir dari peradaban mereka, terutama yang ingkar terhadap para nabi dan rasul. Hal ini tidak lain bertujuan agar manusia bisa mengambil pelajaran (ibrah) dari hal tersebut, karena Al-Qur’an memang diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat manusia.
            Mencermati pergumulan diantara tiga ummat besar, tidak bisa dilepaskan dari sejarah Bani Izrail yang merupakan cikal bakal ummat Yahudi dan ummat Nasrani. Menurut Hj. Irena Handono, dalam bukunya Islam Dihujat, bahwa nabi Musa As, diutus untuk menyeru umatnya yakni ummat Yahudi dan umat manusia secara keseluruhan untuk menyembah Allah swt semata. Hal ini yang kemudian menyebabkan beliau berhadapan dengan bangsa Mesir yang menuhankan Fir’aun. Singkat cerita, nabi Musa As berhasil dengan amanah yang diembannya, Fir’aun mati tenggelam di laut merah dan sepeninggal nabi Musa. As, kitab Taurat kemudian diwariskan kepada ummatnya dengan harapan agar risalah tauhid yang ada di dalamnya disebarkan kepada ummat manusia seluruhnya. Akan tetapi, di sinilah masalahnya karena ummat Yahudi adalah ummat yang oleh Allah swt, dibekali banyak sekali karunia, dan Al-Qur’an banyak menyinggung akan hal itu. Diantara kelebihan yang mereka punya, yakni kemampuan akal yang di atas rata-rata bila dibandingkan dengan ummat yang lain (QS. 2: 47). Dan hal inilah yang kemudian membuat mereka “merasa berbeda” kalau tidak ingin menyebut “istimewa” atas ummat-ummat yang lain. Sikap “merasa berbeda” dan paling unggul seperti ini, kemudian ditonjolkan dengan menggunakan materi sebagai tolok ukurnya. Dengan kata lain, ummat Yahudi lebih disibukkan dengan urusan keduniaan berupa pencarian materi sebagai bukti shahih keunggulan mereka atas ummat manusia mana pun. Akibatnya ajaran nabi Musa. As tergantikan oleh kepentingan duniawi, dan risalah tauhid pun terhenti di tengah jalan karena memang ditelantarkan dan tidak diserukan oleh ummat Yahudi kepada ummat manusia secara umum.
            Atas arogansi ummat Yahudi, maka Allah swt mengutus nabi dan rasul berikutnya yaitu nabi Isa. As, untuk melanjutkan kembali penyebaran risalah tauhid yang pernah dibawa oleh nabi Musa. As serta para nabi dan rasul sebelumnya. Nabi Isa. As kemudian diikuti oleh banyak kalangan dari Bani Izrail, khususnya yang berdomisili di daerah Nazareth, sehingga pengikut nabi Isa. As kemudian dikenal dengan istilah kaum Nasrani, yang dinisbatkan kepada daerah tempat tinggal mereka.
            Akan tetapi ummat Yahudi yang merasa paling unggul, kemudian menolak risalah kenabian dan kerasulan Isa. As dan mereka kemudian bersiasat dan sepakat menyoroti masalah kelahiran nabi Isa. As, sebagai tema sentral untuk menyudutkan beliau. Dengan sangat kejam, ummat Yahudi menuding bahwa nabi Isa. As adalah anak yang lahir di luar hubungan nikah, alias anak haram. Perlakuan semacam ini tentu saja mendapat reaksi pembelaan dari ummat Nasrani yang notabene adalah pengikutnya, akan tetapi disatu sisi mereka juga kesulitan untuk menjawab tudingan ummat Yahudi terkait dengan masalah kelahiran nabi Isa. As.
            Sepeninggal nabi Isa. As, sikap yang bermula dari pembelaan menjadi berlebihan ketika bercampur dengan kepentingan, yakni kepentingan untuk berlindung dari tudingan ummat Yahudi yang masih saja mempersoalkan masalah kelahiran nabi Isa. As. Sikap berlebihan ini tampak jelas dari keyakinan mereka yang menganggap nabinya bukan lagi sebagai manusia tapi lebih dari itu diangkat ke derajat Tuhan. Dengan kata lain, bahwa nabi Isa. As, oleh ummat Nasrani bukan lagi diyakini sebagai manusia utusan Tuhan, tapi lebih dari itu, yakni sebagai perwujudan dari Tuhan itu sendiri. Sehingga dengan demikian mereka pun merasa nyaman untuk berlindung dari tudingan ummat Yahudi, terkait dengan masalah kelahiran nabi Isa. As.
            Akan tetapi mereka sadar betul, bahwa secara logika, manusia tidak akan sampai pada derajat Tuhan jika masih ada “perantara” antara manusia yang dipertuhankan dengan Tuhan yang sejati, yakni Allah swt. Yang dimaksud dengan “perantara” di sini, adalah keberadaan malaikat Jibril (Roh Qudus) sebagai perantara atau pembawa wahyu dari Allah swt, kepada nabi Isa. As. Maka untuk memperkokoh argumentasi yang mereka bangun, yakni untuk menghilangkan “perantara” atau keberadaan malaikat Jibril (Roh Qudus), maka mau tidak mau malaikat Jibril (Roh Qudus) harus masuk dalam jajaran yang sama, sehingga lahirlah dogma trinitas. Dogma inilah yang kemudian menyingkirkan keberadaan risalah tauhid dari keyakinan mereka yang tampak jelas pula di dalam  kitab Injil yang mereka yakini sejak saat itu hingga saat ini.
            Penyudutan ummat Yahudi, memang keterlaluan sementara pembelaan ummat Nasrani, berlebihan. Untuk menjelaskan bahwa seorang perempuan suci bisa saja melahirkan seorang bayi tanpa ayah, agaknya menjadi kesulitan tersendiri bagi ummat Nasrani saat itu, sehingga mereka pun menganggap tepat untuk tetap bertahan dibalik dogma trinitas yang mereka rumuskan sekehendak hawa nafsu mereka sendiri.
            Sesungguhnya dogma trinitas tidak pernah diajarkan oleh para nabi dan rasul mana pun, dan tidak juga berasal dari sisi Allah swt. Dogma trinitas hanyalah konsep ketuhanan yang palsu, yang lahir dari hawa nafsu segolongan ummat manusia, yakni ummat Nasrani. Dan atas perbuatan mereka yang demikian, maka Allah swt mengecam habis perbuatan mereka, sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman yang artinya:
            Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Izrail, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
            Dalam ayat tersebut, tergambar secara sangat gamblang bahwa Allah swt sama sekali tidak rela diri-Nya diserupakan dengan makhluk-Nya, sehingga dalam ayat ini dimulai dengan kata-kata “sungguh kafir”. Kemudian Dia lebih banyak mengabadikan pengakuan nabi Isa. As, mengenai hakikat dirinya, bahwa dia hanyalah seorang nabi dan rasul, yang diutus oleh-Nya untuk menyerukan risalah tauhid, sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya, dan tidak ingin dipertuhankan oleh ummat manusia mana pun.
            Terdapat banyak sekali ayat-ayat suci, yang senada dengan ayat di atas, diantaranya ialah Al-Maidah: 73; 75; 116; 117; 118. Ali-Imran: 79-80, Al-Kahfi: 1-8, An-Nisa: 171-172, dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya ayat-ayat yang sejenis, maka patut diduga bahwa inilah alasan di balik permusuhan ummat Nasrani terhadap ummat Islam, dimana kitab suci kita ini, secara terang-terangan menyelisihi dogma trinitas yang merupakan keyakinan paling fundamental bagi ummat Nasrani. Sehingga imbasnya adalah mereka senantiasa ingin menjerumuskan kita dengan berbagai macam program-program kristenisasi, yang dikemas dalam beragam festival kebudayaan non Islami, ajang pencarian bakat, program televisi, dan lain-lain. Baik secara terang-terangan, maupun secara terselubung dan baik secara halus maupun dengan kekerasan dan perang.
            Sejarah ummat Yahudi, adalah sejarah tentang keingkaran. Jika mereka mengingkari risalah kenabian dan kerasulan Isa. As, hanya karena faktor kelahirannya, maka untuk nabiyullah Muhammad saw, mereka mengingkari risalah kenabian dan kerasulannya hanya karena faktor keturunannya. Faktor kelahiran maupun faktor keturunan, bukanlah hal yang subtantif dalam penyebaran risalah tauhid oleh para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt, namun bagi segolongan ummat manusia berfikiran picik yang dalam hal ini ditunjukkan oleh ummat Yahudi, hal tersebut senantiasa dibesar-besarkan. Jika boleh mengutip pernyataan dari Al-Ustadz Abu Yahya Badrussalam, bahwa:
ummat Yahudi adalah ummat yang sangat berbangga-bangga akan nasab mereka, hampir separuh dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui, adalah berasal dari kalangan Bani Izrail. Sehingga dengan demikian, ummat Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari Bani Izrail sangat berbangga-bangga akan hal tersebut. Sementara itu di sisi lain, ketika mereka mendapati bangsa Arab jahiliyah yang masih menyembah berhala, mereka senantiasa mengecamnya dan menakut-nakuti mereka dengan kabar akan kedatangan nabi dan rasul yang terakhir, sebagai penyempurna wahyu dan penutup serta penghulu para nabi dan rasul, dialah sang nabi akhir zaman yang akan menghapuskan segala bentuk kemusyrikan dan kekafiran, dengan membawa risalah tauhid. Akan tetapi ketika nabi dan rasul yang dimaksud benar-benar telah tiba dan mereka tahu bahwasanya dia bukanlah berasal dari kalangan mereka, yakni Bani Izrail, melainkan berasal dari kalangan bangsa Arab, bangsa yang senantiasa dinilai sebagai komunitas dengan tingkat peradaban yang paling rendah, maka dengan serta merta mereka pun mengingkari risalah kenabian dan kerasulannya.
            Sementara bagi ummat Nasrani, sikap berlebih-lebihan dalam bentuk pembelaan mereka terhadap nabi mereka, yakni Isa. As yang kemudian menjerumuskan mereka kepada kesesatan yakni berupa kultus individu pada diri nabi Isa. As yang dengan itu kemudian melahirkan doktrin trinitas, sekali lagi doktrin yang menyingkirkan risalah tauhid dari keyakinan mereka.

(tulisan ini sepenuhnya terinspirasi, dari sebuah buku yang sangat fenomenal karya Ibunda Hj. Irena Handono, yakni ISLAM DIHUJAT! Menjawab buku THE ISLAMIC INVATION karya Robert Morey. Dengan beberapa perubahan yang seperlunya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar