Translate

Selasa, 16 Januari 2018

MENYOAL LGBT RUANG TABLIGH DAKWAH BIL QALAM, GERAKAN LITERASI



MENYOAL LGBT
            Isu LGBT, ibarat patologi sosial yang tak kunjung pulih, hampir setiap saat penyakit ini bangkit dan menuntut hak yang sama untuk diperlakukan layaknya kaum yang normal, bahkan berbagai tuntutan pun dilayangkan, mulai dari pengakuan kesamaan hak, diterima oleh khalayak ramai sebagai bagian dari keragaman masyarakat, budaya, sampai pada isu HAM pun didengung-dengungkan. Apa sebenarnya dan bagaimanakah LGBT itu? Tulisan singkat ini akan sedikit membahasnya. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

APA ITU LGBT?
            Hubungan sesama jenis atau disebut homoseksual adalah rasa ketertarikan secara emosional, seksual, personal, atau gabungan dari ketiganya. Bila pelakunya laki-laki disebut gay, dan bila perempuan disebut lesbian. Menurut informasi, bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan pasti tentang faktor penyebab munculnya orientasi seksual sesama jenis pada manusia. Namun begitu, para peneliti mempercayai bahwa orientasi seksual manusia ditentukan oleh kombinasi dari sejumlah faktor, yang di antaranya adalah: lingkungan, budaya, emosional, hormonal, dan biologis. Perilaku homoseksual antara pelaku satu dengan yang lain sangat mungkin dilatarbelakangi oleh faktor penyebab yang berbeda-beda. Tapi, faktor sosial: pengaruh lingkungan dan budaya, ditengarai menjadi faktor terbesar yang membentuk perilaku homoseksual dewasa ini.

SEJARAH LGBT
            LGBT atau GLBTadalah akronim dari " Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender." istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an. Sejarah homoseksual atau LGBT sudah ada pada masa Mesir Kuno, sementara itu sikap masyarakat terhadap hubungan sesama jenis telah berubah dari waktu ke waktu dan berbeda secara geografis.
            Khusus di Barat sendiri, LGBT dimulai sejak Era Revolusi Perancis pada 1791 ketika sekularisme mulai mendapat tempat sementara peran agama terutama gereja tidak lagi relevan dalam sosial, politik dan ekonomi hingga jatuhnya pemerintahan Turki Uthmaniyyah, masyarakat Barat yang pada awalnya berada dalam zaman kegelapan mulai membebaskan diri dari ikatan beragama. Tindakan ini telah melahirkan satu masyarakat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang menjadikan kehendak manusia tanpa batasan (humanisme) sebagai tuhan sampai munculnya golongan yang mulai berani memperjuangkan orientasi seks yang menyimpang berdalilkan kebebasan berkendak dan hak asasi manusia. Mulai dari sinilah penyakit moral ini mulai tersebar ke seluruh dunia. Meski awalnya keberadaan kaum LGBT di barat (Eropa) bukan hanya dilarang oleh masyarakat dan institusi agama, tetapi juga dilarang secara hukum dan di kriminalkan oleh negara.
            Pada tahun 1960-an kaum LGBT atau GLBT (hampir seluruh Eropa) secara tegas menuntut kesamaan hak dengan warga negara lainnya tanpa membedakan orientasi seksualnya.
            Di Amsterdam, pada tanggal 4 Mei 1970 Aksi Kelompok gay Muda Amsterdam atau Amsterdamse Jongeren Aktiegroep Homoseksualiteit melakukan aksi peringatan nasional untuk para korban meninggal akibat kekerasan yang dialami korban homoseksual. Pada tahun 1990-an istilah LGBT atau GLBT ini banyak di gunakan di Amerika Serikat.
            Pada bulan Mei 1979, dicetuskan dari ide anggota Center for Culture and Recreation sebuah organisasi lesbian yang didirikan pertama kali di Amsterdam tahun 1946 untuk mendirikan sebuah monument peringatan bagi kaum homoseksual yang bekerja sama dengan kelompok gay dari Partai Sosialist Pasifist (The Gay Group of The Pasifist Socialist Party).
            Ide ini mendapat dukungan dari kelompok gay dan lesbian, baik dari individu maupun kelompok yang terdiri dari 7152,- group lesbian dan gay juga dukungan dan antusiasme dari dunia internasional. Tidak semua orang yang disebutkan setuju dengan istilah LGBT atau GLBT. Contohnya ada yang berpendapat bahwa pergerakan transgender dan transeksual tidak sama dengan lesbian, gay, dan biseksual (LGB). Seorang Psikiatri Ilmu Kejiwaan berpendapat bahwa baik heteroseksualitas maupun homoseksualitas adalah bentukan norma, sementara "biseksualitas" adalah kondisi normal manusia yang ditolak oleh masyarakat. Sebuah kamus kedokteran tahun 1901 mengurutkan heteroseksualitas sebagai ketertarikan seksual yang "menyimpang" lawan jenis, sedangkan pada 1960-an heteroseksualitas disebut "normal".   Banyak publik tidak mengetahui bahwa gerakan LGBT untuk bisa diterima di masyarakat luas, sudah dimulai semenjak tahun 60-an. Memang benar bahwa homoseksual tidak lagi dicantumkan sebagai sebuah penyakit mental di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II) pada 1973. DSM adalah “Alquran”-nya para psikolog dan psikiater di seluruh dunia untuk menentukan kategorisasi penyakit-penyakit mental. DSM selalu direvisi tiap beberapa tahun berdasarkan hasil penelitian yang valid. Pencabutan homoseksual dari DSM pada 1973, yang berdampak pada pandangan bahwa homoseksual bukan lagi sebagai penyakit jiwa, dilakukan bukan berdasarkan hasil penelitian. Tetapi, berdasarkan adanya desakan politik dan demonstrasi besar-besaran. Gerakan ini merupakan rentetan dari pergerakan hak kebebasan warga Amerika kulit hitam pada 1950-an.  Persamaan hak warga Amerika kulit hitam ini juga berimbas pada munculnya gerakan feminis dan juga aktivis gay yang mencapai puncaknya di Amerika pada 1970-an.

TIGA FAKTOR PENYEBAB LGBT
            Ketua Pusat Kerja Gugus (PKG) Paud Kecamatan Matraman Nini Fitriani, yang juga seorang pakar psikologi anak menyebutkan ada 3 (tiga) faktor yang menyebabkan seseorang bisa masuk dalam lingkaran LGBT
  1. pengasuhan yang salah atau kurang tepat sejak anak dilahirkan. Misalnya, orang tua yang ingin anak laki-laki tapi ketika lahir dapatnya anak perempuan. Kemudian orang tua tersebut memperlakukan anaknya seperti anak laki laki.
  2. disebabkan karena tidak adanya figur ayah atau figur ibu dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena banyak faktor, seperti Bisa jadi karena ayah atau ibu meninggal, bisa juga karena ayah atau ibu berpisah atau bisa juga ayah atau ibu lengkap tapi tidak menjalankan fungsinya sebagai ayah dan ibu yang seharusnya, dengan alasan ayah dan ibu sibuk bekerja memenuhi kehidupan keluarga.
  3. faktor lingkungan juga cukup besar mempengaruhi seseorang untuk menjadi LGBT. Faktor teman sebaya atau pergaulan anak atau remaja, jika ada teman dekat yang memiliki kecenderungan LGBT, kemudian anak sangat akrab dan sering berinteraksi dengannya sehinga bisa terjadi tertular apakah sengaja atau tidak sengaja.

VARIASI STRUKTUR OTAK PENGARUHI ADANYA GEN LGBT?
            Berdasarkan narasumber seorang ahli bedah syaraf di Indonesia Dr. Roslan Yusni Hassan (Ryu Hassan) mengatakan, lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) itu bukanlah sebuah penyakit. Lebih jauh lagi bahwa orientasi seks terhadap sesama jenis adalah sebuah perbedaan biasa di dalam hidup. Hal ini disebabkan karena para LGBT mempunyai struktur otak yang berbeda dari orang yang non-homoseksual. Tidak ada yang bisa “mengotak-atik” struktur otak. Dengan kata lain jika struktur otak LGBT berbeda dengan yang non-LGBT maka hal ini adalah sesuatu yang natural dan alamiah. Karena itulah yang sudah didesain oleh “pabrik” otaknya (baik dalam segi struktur maupun fungsi). Terimalah LGBT untuk menjadi dirinya sendiri, begitu ringkasan pernyataan Ryu Hassan. Seolah ingin ingin agar masyarakat menerima kaum LGBT sebagai hal yang kodrati. Namun apakah pernyataan Ryu Hassan tersebut valid dan bisa dipertanggung jawabkan? Sesungguhnya filter terbaik dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan.
                William James, seorang psikolog Amerika Serikat, adalah orang yang pertama kali mencetuskan ide bahwa otak itu bisa mengorganisasikan (merubah) dirinya sendiri. Hal itu dikenal untuk hari ini dalam ilmu yang mempelajari otak (neuroscience) dengan istilah neuroplasticity, sebuah istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Jerzy Konorski, seorang neuroscientist asal Polandia pada 1948. Neuroplasticity mendobrak kebuntuan pemikiran dunia kedokteran yang terkungkung dalam konsep yang salah tentang otak selama tiga abad: otak manusia berhenti berkembang pada umur tertentu.
            Penemuan konsep ini menyatakan, bahwa otak manusia berubah-ubah baik struktur maupun fungsinya sampai kapan pun tergantung dari pengalaman yang dilakukan. Pengalaman ini meliputi lingkungan, perilaku, pemikiran, persepsi, perasaan, emosi, dan bahkan kebiasaan berimajinasi sekalipun. Otak tak ubahnya seperti plastik yang bisa berubah bentuk dan sangat fleksibel. Lalu apa yang menyebabkan perubahan tersebut? Jawabannya adalah perilaku dan pengalaman yang kita buat.
               Donald Hebb, psikolog asal Kanada, mengemukakan sebuah ungkapan yang terkenal, Neurons fire together, wire together (Syaraf yang aktif bersamaan, akan membentuk jaringan secara bersamaan pula). Pemikiran, perasaan, orientasi seksual, persepsi, termasuk sensasi fisik yang dibayangkan, mengaktifkan ribuan syaraf secara bersamaan. Ketika sebuah pemikiran ataupun perasaan tersebut diulang terus menerus, maka ribuan syaraf tersebut akan membentuk dan menguatkan jaringan sistem syaraf yang unik untuk pemikiran atau perasaan tersebut.
            Adanya konsep neuroplasticity ini menyampaikan bahwa perbedaan struktur otak tidak serta merta menyebabkan seseorang mempunyai orientasi seksual LGBT. Tetapi, kebiasaan, pengalaman, dan gaya hidup yang dibangunlah yang bisa mengubah struktur dan fungsi otak hingga menghasilkan orientasi dan perasaan intim terhadap sesama jenis. Dengan kata lain, bahwa perbedaan struktur otak yang terjadi, bukanlah karena faktor bawaan dari “gen LGBT” tapi lebih disebabkan oleh faktor perilaku manusia itu sendiri.
            Menyatakan dengan serta-merta bahwa LGBT disebabkan karena adanya faktor perbedaan dari struktur otak sangatlah naif dan hal itu tidak berdasarkan pemikiran yang mendalam dan komprehensif dengan mempertimbangkan penelitian yang mutakhir.
            Cara kerja sistem syaraf amatlah rumit. Perbedaan struktur maupun fungsi otak bisa berubah karena adanya sebuah pengalaman yang terus-menerus dilakukan. Adanya perbedaan struktur dan fungsi otak para LGBT bisa disebabkan karena lingkungan dan kebiasaan yang mereka lakukan; sebagai contoh, di mana dan dengan siapa mereka bergaul, mendiskusikan tentang seks, mempunyai pengalaman yang pahit karena dikecewakan oleh lawan jenis, dan kebiasaan berimajinasi dalam keintiman dengan sesama jenis.

DAMPAK KESEHATAN       
            Sejumlah penyakit berbahaya yang rentan menjangkiti pelaku perbuatan menyimpang ini salah satunya adalah HIV/AIDS. Penularan HIV adalah risiko pertama hubungan seks sesama jenis. Di Indonesia, separoh pengidap HIV adalah pelaku homoseksual.
            Penyakit kedua adalah sipilis. Hasil survei menunjukkan bahwa pada 2013, 11,3% penderita penyakit kelamin ini adalah pelaku homoseksual. Mereka rentan terkena lantaran aktivitas anal seks. Anal seks sering memicu luka karena dubur tak menghasilkan pelumas. Luka tersebut menjadi pintu masuk bakteri, khususnya terponema pallidum yang adalah penyebab penyakit sifilis.
            Penyakit kelamin lainnya adalah gonore alias kencing nanah. Penyakit ini bila berlarut dapat memicu infeksi testis dan menyebabkan masalah kesuburan.
            Ada juga penyakit non kelamin yang rentan menyebar di kalangan pelaku homoseksual, yakni Hepatitis B. Sebabnya adalah, virus mematikan ini bisa menular melalui cairan seksual.

BERKACA KEPADA KISAH KAUM NABI LUTH
                        Gempa mengakibatkan letusan lava serta semburan gas metana dan berakhir dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati. Salah satu azab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Alquran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diazab Allah karena melakukan praktik homoseksual. Menurut kitab Perjanjian Lama, kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sodom sehingga praktik homoseksual saat ini kerap disebut juga sodomi.Penelitian arkeologis mendapatkan keterangan, Kota Sodom semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania.
            Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir balik masuk kedalam Laut Mati.Layaknya orang jungkir balik atau terguling, kerap bagian kepala jatuh duluan, lalu diikuti badan dan kaki. Begitu pula Kota Sodom, saat runtuh dan terjungkal, bagian atas kota itu duluan yang terjun ke dalam laut, sebagaimana Allah kisahkan dalam Alquran, ''Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.'' (Surat Huud [11]: ayat 82).
            Hasil penelitian ilmiah kontemporer menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat Kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah. Patahan itu berawal dari tepi Gunung Taurus, memanjang ke pantai selatan Laut Mati dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, hingga berakhir di Afrika.
            Biasanya, bila dua lempengan kerak bumi ini bergeser di daerah patahan, akan menimbulkan gempa bumi dahsyatyang diikuti dengan tsunami (gelombang laut yang sangat besar) yang menyapu kawasan pesisir pantai.Juga, biasa diikuti dengan letusan lava/lahar panas dari perut bumi.Hal seperti itu pula yang terjadi pada Kota Sodom, sebagaimana diungkap peneliti Jerman, Werner Keller,"Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis melewati daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman (Laut Mati). Kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan petir, keluarnya gas alam, serta lautan api. Pergeseran patahan membangkitkan tenaga vulkanis (berupa gempa) yang telah lama tertidur sepanjang patahan."Dengan keterangan ilmiah tersebut, dapat direkonstruksi kembali bagaimana azab Allah itu menimpa umat Nabi Luth yang ingkar kepada-Nya.
            Bencana itu didahului dengan sebuah gempa yang menyebabkan tanah menjadi merekah. Dari rekahan itu, muncul semburan lahar panas yang menghujani penduduk Kota Sodom. Di bawah pesisir Laut Mati, juga terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung gas metana yang mudah terbakar.Kemungkinan besar, letusan lava serta semburan gas metana itulah yang Allah maksudkan dalam Alquran dengan hujan batu dari tanah yang terbakar. Bencana itu diakhiri dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati.             Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum Luth di laboratorium, lalu mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk, lalu terbenam di dalamnya.Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini mengungkap satu kenyataan penting bahwa kaum Luth yang disebutkan Alquran memang pernah hidup pada masa lalu, kemudian merekapunah diazab Allah akibat kebejatan moral mereka. Semua bukti terjadinyabencana itu kini telah terungkap dan benar sesuai dengan pemaparan Alquran.

BISA DISEMBUHKAN!
               Orang yang memiliki orientasi seksual menyimpang ini hendaknya segera berkonsultasi ke dokter, psikiater, dan/atau psikolog, guna mendapatkan petunjuk dan solusi musibah besar tersebut sedini mungkin. Dan yang pasti, langkah spiritual harus dijadikan hal pertama dan utama yang harus ditempuh. Dalam Islam, perbuatan itu sudah jelas diharamkan. Apabila pelaku sudah meyakini demikian, tentu dorongan batin untuk bertobat dan kembali normal akan kuat. Dan tentu saja, peran kita semua, kaum Muslim, harus ada. Paling tidak mendoakan, atau kalau bisa menasihati dengan lembut dan memberi pendampingan berkelanjutan. Bukan mencaci, menghina, yang akan membuat mereka semakin menjauh dari kebenaran dan terjerumus ke dalam kesesatan.
            Seorang pakar psikologi Tika Bisono, menyatakan bahwa perilaku LGBT dapat disembuhkan dengan terapi psikologi. Adapun lama penyembuhannya, tergantung dari kondisi gangguan atau penyimpangannya. Dalam banyak kasus, pelaku LGBT telah banyak yang disembuhkan, dengan pendampingan psikologis yang intens dan penciptaan lingkungan religius yang memadai. (dikutip dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar