Translate

Minggu, 04 Maret 2018

RUANG TABLIGH; DAKWAH BIL QALAM; GERAKAN LITERASI



MENGGUGAT OPINI SESAT SOAL LGBT
            Ketika kita mendengar isu LGBT, kita kian menyadari bahwa perjuangan untuk memberantas penyakit ini kian menemui jalan terjal nan panjang dan berliku-liku. Sangat banyak argumen yang dikemukakan untuk membela diri, mulai dari kebebasan berekspresi, keragaman budaya, HAM, dan bahkan yang teranyar dilontarkan saat ini adalah LGBT ada karena faktor hormonal (genetis (hormonal)). Namun benarkah hal ini juga dipengaruhi oleh faktor tersebut? Tulisan di bawah ini bertujuan untuk mengulasnya.
            Salah satu alasan feminis atau pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) untuk melegalkan aktivitas homoseksual dan lesbian adalah karena sudah kodrat, karena mereka sudah dilahirkan dalam keadaan seperti itu dan kondisi demikian tidak bisa dirubah.
            Namun, hal itu dibantah dengan tegas oleh Prof. Malik Badri, menurutnya pendapat yang mengatakan bahwa Homo dan Lesbi adalah bawaan sejak lahir adalah sangat Tidak mungkin seperti itu! Kalau memang penyebab homoseksual dan lesbian adalah karena faktor genetis (hormonal), berarti kita telah memvonis Tuhan tidak adil, padahal kenyataannya tidak demikian, justru manusialah yang selalu dzalim dan mengundang bencana untuk dirinya sendiri. Dalam penuturannya, beliau mengutip QS. An-Nisa/4:79
مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ﴿٧٩﴾
            “Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”
            Maksud dari ayat tersebut, bahwasanya Allah swt tidak pernah berlaku dzalim terhadap hamba-hamba-Nya, sebaliknya Allah senantiasa menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, namun ketika mereka memperoleh bencana maka seharusnya iman mereka mengatakan ini disebabkan karena kesalahan-kesalahan mereka sendiri. Sehingga dengan demikian mereka tidak perlu mencari kambing hitam atas musibah yang menimpa mereka. LGBT adalah perilaku yang mengundang bencana itu sendiri, andai mereka menyadari.
            Para Psikolog Barat mengklaim, pelaku LGBT menjadi demikian karena hormon estrogen lebih banyak daripada hormon endrogen. Dalam analisisnya, mereka mengatakan bahwa secara ilmiah penentu sex seseorang ditentukan oleh 3 faktor kromosom (ada tidaknya kromosom Y), sex gonad (ada tidaknya Testis) dan yang terakhir sex phenotypic (secondary sex differentiation: ditentukan oleh produk hormon dari gonad) berdasarkan informasi ini, realitanya bagi beberapa orang ada yang mengalami sindrom (salah satu contoh adalah di mana pada laki-laki kromosomnya adalah XXY/ XXXY dan tanpa kromoson Y berarti perempuan namun bisa terjadi cross over di mana XX menjadi laki-laki dan XY menjadi perempuan) inilah yang menjadi dasar bahwa ada beberapa orang yang dilahirkan dengan perbedaan sex antara gonad dan fenotip dengan kromosom yang ia punya.
            Namun, hal ini langsung dibantah kembali oleh Prof. Malik Badri sendiri. Menurutnya, fakta menunjukkan kalau manusia yang punya hormon estrogen lebih banyak tidak menderita homoseksual. Hormon estrogen sendiri adalah hormon yang pada umumnya diproduksi oleh rahim wanita yang merangsang pertumbuhan organ seks perempuan, hal ini dikenal sebagai karakteristik seks sekunder. Selain itu, estrogen mengatur siklus menstruasi. Hal ini juga disetujui oleh Rushdi Kasman M.Si., Dosen mata kuliah Psikologi dan Konseling di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, dalam penuturannya, bahwa kadar hormon estrogen yang lebih banyak di dalam tubuh seorang laki-laki tidak menentukan seseorang menjadi homoseksual. Contohnya saja seperti dokter Boyke yang agak kemayu (kebanci-bancian) tapi ternyata beliau bukan seorang homoseksual. Jadi kecenderungan perilaku seperti tomboy dan feminim tidak menentukan seseorang itu punya kelainan seksual (homoseksual). Dengan kata lain bahwa berlebihnya hormon estrogen pada diri seorang pria atau hormon endrogen pada seorang perempuan hanya menyebabkan perilaku yang “berbeda” tanpa mengubah orientasi seksualnya. Sehingga seseorang yang mengalami kelainan seksual bukan karena faktor genetis (hormonal) melainkan karena faktor lingkungan. Tidak hanya itu, Prof. Malik juga mengungkapkan bahwa dalam psikologi Barat orang yang kontra dengan homoseksual dan mengkritisinya termasuk dalam salah satu penyakit kejiwaan yang disebut homophobia. Sekarang ini dalam Psikologi Barat, orang yang kontra dengan Homoseksual sudah bisa dikatakan termasuk dalam salah satu penyakit kejiwaan. Padahal menurut Yadi Purwanto, salah satu Psikolog Islam Indonesia dalam bukunya “Psikologi Kepribadian, integritas aqliyah dan nafsiyah Perspektif Psikologi Islam”, Dalam perspektif Psikopatologi (gangguan kepribadian) perspektif Islam homoseksual termasuk dalam kategori jiwa yang abnormal atau jiwa yang sakit.
            Korelasinya Dengan Kesetaraan Gender Poin penting yang juga harus digaris bawahi dari kuliah umum kemarin adalah, perilaku homoseksual ada korelasi dengan paham kesetaraan gender. Karena paham kesetaraan gender, perilaku homoseksual seperti mendapat pelegalan dan membuatnya semakin marak, sebagaimana hal ini diungkapkan oleh Dr. Hamid, bahwa asal mula Homoseksual diperjuangkan dalam kesetaraan gender yaitu berasal dari feminis aliran radikal, feminis aliran radikal ini mempunyai tuntutan bukan hanya kesetaraan untuk perempuan tapi kesetaraan untuk memperoleh kepuasan seks, jadi karena tidak memerlukan laki-laki dia bisa memperoleh kepuasan seks tersebut dan tidak ada ketergantungan karena merasa mempunyai hak untuk memperoleh itu. Feminis ini memperoleh penguatan lagi dengan konsep equality, feminisme hakikatnya membela hak perempuan, bukan hanya membela hak perempuan tetapi juga menyamakan hak perempuan dengan laki-laki, nah itu dalam semua aspek, termasuk dalam homoseksual.
            Penyimpangan seksual seperti homoseksual dan lesbian bisa disembuhkan, yaitu dengan cara memberikan terapi kognitif, seperti dibangunkan kesadarannya bahwa apa yang dia perbuat salah tanpa menyudutkan dan menumbuhkan motivasi pada diri si pelaku, kemudian dengan terapi behavior (pembiasaan), yaitu si pelaku dimasukkan dalam lingkungan yang lebih bersih dan baik, yang mendukung kesembuhannya dan dijauhkan dari komunitasnya. (dikutip dari berbagai sumber)
JAYALAH IMM
ABADI PERJUANGAN KITA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar