Translate

Minggu, 04 Maret 2018

MANUSIA DAN KEMANUSIAAN




 Ada sebuah cerita tentang seorang pangeran yang selama hidupnya hanya ingin mengetahui tentang “Apa Itu Manusia”, namun hingga akhir hayatnya ia tak pernah menemukan jawaban akan kebingungannya. Menurut Murtadha Muthahari dalam sebuah bukunya Manusia dan Agama menjelaskan bahwa “Manusia itu adalah lahir, menderita, kemudianmati”.

Manusia adalah cermin Tuhan. Cermin adalah subjek pasif. Kedudukan setiap cermin adalah sama dan sejajar. Sempurna tidaknya sebuah cermin tergantung sejauh mana ia dapat memantulkan kesempurnaan Subjek sesungguhnya, yaitu Tuhan. Refleksi kebertuhanan individu berbanding lurus dengan sejauh mana ia dapat menjadi media bagi menyebarnya kasih Tuhan di dunia.

Dewasa ini telah banyak aliran-aliran pemikiran yang mendefinisikan tentang manusia, aliran pemikiran materialisme, rasionalisme, hingga pemikiran marxisme yang mengemuka di kalangan kita, telah memberi pemahaman tentang keberadaan manusia itu.

Akankah keragaman pemikiran tersebut sesuai dengan kefitrian kita?, manusia yang dicipta sebagai sesuatu yang paling sempurna diantara segala keberadaan yang telah ada di jagad raya ini, sehingga mampu menjadi khalifah yang senantiasa membawa kemaslahatan, ataukah idiom–idiom tentang manusia adalah “Binatang Rasional” masih pantas dilekatkan pada diri manusia itu.

Fitrah kemanusiaan kita untuk selalu mencari sebuah kebenaran, merupakan suatu hal yang patut tuk dipertanyakan kembali, apakah pemahaman akan peran kita sebagai manusia hanya sebatas pada apa yang kita alami hari ini ataukah kita termasuk pada golongan kelompok yang tidak pernah tahu seperti apakah manusia yang patut untuk dikatakan manusia dan bukan sebagai “Binatang Rasional”.

Kemungkinan terbesar yang menimpa negeri ini adalah disebabkan ketidak tahuan akan peran dan fungsi kemanusiaan kita. Mungkin inilah yang ingin di sampaikan oleh Murtadha Muthahari “bahwa manusia terlahir hanya akan merasakan penderitaan jika apa yang menjadi keharusan bagi seorang manusia tak mampu diketahuinya hingga kemudian mati dalam ketidak tahuan dan kebingungannya”.

JAYALAH IMM

ABADI PERJUANGAN KITA

Penulis :IMMawan  Irfan Iskandar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar