Translate

Minggu, 04 Maret 2018

RUANG TABLIGH; DAKWAH BIL QALAM GERAKAN LITERASI



KETIKA MANUSIA MENCARI SISTEM SOSIAL YANG IDEAL
Sistem apakah yang selaras dengan manusia, sehingga manusia mencapai suatu kehidupan sosial yang berbahagia? Berawal dari pertanyaan yang terdengar begitu klise seperti ini, manusia memulai pencariannya akan kebebasan dan tanggung jawab sosial diantara Islam, sosialisme, dan demokrasi kapitalis.
Masalah utama yang akan dikemukakan di sini, adalah sama dengan kalimat tanya di atas, yakni hendak mencari sistem atau ideologi negara yang bisa menjamin kebebasan umat manusia sekaligus memberikan jaminan dan kepastian dalam segala aspek kehidupannya, seperti dalam hal politik, ekonomi, intelektual, kesehatan, kepemilikan pribadi, jaminan akan hal-hal yang sifatnya privasi, keadilan, persaudaraan, dan sebagainya. Sejarah telah mencatat, bahwa pada abad XIX-XX dikenal dengan “Abad Ideologi”. Mulai abad itu bermunculan ideologi-ideologi besar yang berperan mengubah tatanan dunia. Ideologi ini tumbuh seiring dengan munculnya keinginan untuk membentuk Negara baru pasca perang dunia I dan II. Imperialisme dan Kolonialisme yang telah dipraktikkan sejak terjadinya revolusi industri pada awal abad XX telah menemui ajalnya. Saat itu, nasionalisme menjadi ideologi pemersatu yang paling ampuh untuk mempersatukan Negara-negara yang tengah terjajah, untuk bangkit melawan penindasan. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan ketika masalah kemanusiaan semakin kompleks maka kebutuhan manusia untuk mempertahankan eksistensinya, mendorong mereka untuk berupaya keras melahirkan gagasan baru yang lebih segar dan spesifik kemudian, sejumlah tokoh intelektual Barat, seperti Alexander Vinet, Saint Simon, Robert Owen, Karl Marx, Lenin, Adam Smith, John Locke, dan sebagainya. memperkenalkan gagasan-gagasan mereka, gagasan yang digadang-gadang lebih mumpuni untuk menjawab persoalan kemanusiaan yang kian kompleks, dan itu ditandai dengan hadirnya ideologi demokrasi kapitalis, sosialisme, komunisme, dan sebagainya. Adalah pengalaman yang berharga, kalau kita mampu untuk menyelami empat ideologi besar dunia yang pernah dianut oleh umat manusia, namun tiga diantaranya dinilai gagal seiring dengan perjalanan waktu, dan sejarah telah mencatatnya dengan sangat rapi.
Dalam banyak hal manusia telah mencapai perkembangan yang signifikan dalam kehidupannya, seperti masalah kemampuan manusia dalam penanganannya terhadap masalah-masalah sosial. Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa seiring perkembangan peradabannya, umat manusia telah pernah menerapkan berbagai sistem dalam kehidupan sosialnya, mulai dari yang paling primitif sampai kepada sistem sosial yang paling mutakhir, seperti perbudakan sosial, kediktatoran, tirani, kapitalisme demokratis, dan sebagainya yang dalam konteks kontemporer coba dipertanyakan kembali bahwa manakah yang paling manusiawi untuk diterapkan dalam kehidupan sosial umat manusia? Dapatkah manusia memberikan jawabannya? Dan sejauh manakah kondisi-kondisi yang dibutuhkan dalam aspek intelektual dan spiritualnya, untuk bisa memberikan jawaban itu? Jenis kepastian-kepastian apakah yang bisa menjamin keberhasilan puncak manusia di dalam ujian dan ketepatan dalam memberikan jawaban kepada pertanyaan itu, dalam cara yang dipilihnya untuk mengatasi masalah sosial itu?
Hal-hal yang telah dikemukakan di atas, sangat berhubungan luas dengan konsep yang umum mengenai masyarakat dan alam. Oleh karenanya metode untuk menanganinya berbeda-beda di antara para ahli, masing-masing menurut konsep-konsep umumnya sendiri. Dan terkait dengan hal yang telah diuraikan di atas, perspektif yang pertama kali akan disajikan dalam hal ini, adalah perspektif Marxisme dalam hubungannya dengan pencapaian manusia dengan daya intelektualnya.
Karl Marx, sebagai pencetus faham Marxisme, yang dalam perkembangan selanjutnya, fahamnya yang ini pun berkembang menjadi komunisme. Dia mengemukakan bahwa daya intelektual manusia sangat dipengaruhi oleh alat-alat produksi dan penemuan-penemuan yang ada pada zamannya, hal ini disebabkan karena secara spiritual dan intelektual manusia telah dikondisikan untuk mengabdi kepada cara produksi dan jenis-jenis alat produksi, karena posisinya yang terpisah dari alat-alat produksi tersebut, manusia tidak dapat berfikir dalam batasan-batasan sosial, tidak bisa juga ia menentukan  mana yang paling baik. Alat-alat produksilah yang mendiktekan kepadanya pengetahuan tersebut yang memungkinkannya untuk menjawab pertanyaan sentral yang tertera di atas.
Masih dalam konteks perspektif Marxisme, kincir angin sebagai contoh, menginspirasi manusia sehingga merasa bahwa sistem feodal adalah yang paling baik baginya. Kincir uap yang muncul belakangan mengajarkan kepadanya bahwa kapitalisme adalah implementasi yang lebih baik. Alat produksi yang elektrik dan atomis memberikan kepada masyarakat konsep intelektual baru, dengan kepercayaan bahwa sosialisme yang paling sesuai.
Akan tetapi, analisa yang dikemukakan oleh Karl Marx, tidaklah cukup untuk menjelaskan secara detail keterkaitan antara tingkat pengetahuan manusia dengan alat-alat produksi yang ada pada masanya, terutama yang terkait dengan contoh kasus di atas, sehingga hal ini tetaplah terasa rancuh. Namun teori Karl Marx mengenai konstruksi sosial seperti yang tercantum di atas, telah terbantahkan dengan hadirnya beberapa fakta sejarah, sebagai berikut:
         1.         Plato, percaya pada komunisme, dan ia membayangkan tentang kota idealnya atas dasar sistem komunisme padahal konsepsinya itu tidaklah merupakan hasil dari keberadaan alat-alat produksi modern yang belum dipunyai oleh Bangsa Yunani pada masa sebelum masehi.
         2.         Woo-Di, Kaisar Cina yang terbesar dari Dinasti Han, yang percaya pada sistem komunisme sebagai yang paling sesuai berdasar pada pengetahuan dan pengalaman, dan ia menerapkannya pada sekitar tahun 140-87 SM.
         3.         Kaisar Wang Mang yang naik takhta pada awal tahun masehi, dan antusias pada gagasan-gagasan untuk memerdekakan para budak serta mengakhiri perbudakan sosial di Cina maupun sistem feodalisme.
            Berdasarkan fakta sejarah di atas, dapatlah difahami bahwa perkembangan intelektual manusia, baik yang berupa inspirasi sosial, sikap politik, dan lain sebagainya, tidaklah dipengaruhi oleh alat-alat produksi yang ada pada masanya, baik itu berupa tenaga uap, listrik atau atom yang dianggap Marxisme sebagai platform pemikiran sosial.
            Teori kedua, yang terkait dengan kemampuan manusia dalam penanganannya terhadap problema sosial, yakni dalam perspektif non Marxisme. Para pemikir yang masuk dalam kategori ini percaya bahwa kemampuan manusia untuk membangun sistem yang paling sesuai, tumbuh berkembang dari banyaknya pengalaman yang telah ditempuhnya.
            Karena itu ketika manusia menerapkan suatu sistem sosial tersendiri, dengan menjelmakannya dalam pengalaman hidupnya sendiri, maka dari pengalamannya dengan sistem tersebut ia akan bisa melihat kesalahan-kesalahan dan titik-titik rapuh yang tersembunyi di dalamnya, yang akan memungkinkannya untuk merancang sistem sosial yang lebih cocok dan lebih memiliki dasar.
            Berikut ini keempat ideologi besar dunia yang menempati benak manusia hari ini yang di kalangan itu tengah terjadi pertarungan politik atau intelektual, menurut ukuran eksistensi sosial mereka dalam kehidupan umat manusia.
1.      Sistem Demokrasi Kapitalis, sistem ini meliputi sistem ketatanegaraan dan sektor ekonomi, dimana gerak perekonomian bertumpu pada kepemilikan modal secara pribadi dengan ciri persaingan bebas, tanpa regulasi dari pemerintah, sehingga memungkinkan masyarakat kecil-menengah ke bawah menjadi sengsara. Kapitalisme, berasal dari kata dasar kapital, yang artinya modal, dalam sistem ini, orientasi terbesarnya ada di sektor ekonomi, meski pun aspek ketatanegaraan juga tidak diabaikan. Obsesi terbesarnya adalah keyakinan bahwa pemilik modal dapat melaksanakan usahanya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Kapitalisme memiliki anggapan bahwa modal merupakan satu-satunya unsur untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Para kapitalis menganggap bahwa modal dapat menghasilkan lebih banyak kekayaan. Kapitalisme juga mendukung kepemilikan harta pribadi dan menentang peraturan-peraturan pemerintah yang membatasi hak-hak terhadap harta pribadi.
            Demokrasi kapitalis dilandaskan pada suatu kepercayaan yang tidak terbatas pada individu, dan bahwa kepentingan-kepentingan pribadinya secara otomatis menjamin kepentingan masyarakat dalam segenap aspek kehidupannya, serta dengan gagasan bahwa pemerintahan didirikan untuk memproteksi kepentingan individual sehingga pemerintah tidak boleh melampaui tujuan ini dalam ruang lingkup aktivitas-aktivitas aktualnya. Atau dengan kata lain, bahwa masyarakat atau negara itu terbentuk dari individu-individu, sehingga setiap individu mempunyai hak untuk menentukan segala hal yang ada dalam masyarakat atau negara. Maksudnya adalah, kedaulatan ada di tangan individu atau rakyat. Inilah yang kemudian yang menjadi dasar munculnya demokrasi. Faham ini menghendaki adanya undang-undang dasar, pemilihan umum, kemerdekaan pers, kemerdekaan berbicara, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, kemerdekaan beragama, dan sebagainya. Dalam demokrasi kapitalis, peran pemerintah sangat dibatasi, sehingga kebebasan mendapatkan porsi yang utama dalam sistem ini, terutama dalam sektor ekonomi.
            Pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas sehingga rakyat dapat belajar untuk membuat keputusan sendiri. Selain itu, kekuasaan yang melekat pada seseorang sangat dibatasi oleh peraturan dan norma. Dengan demikian praktik penyalahgunaan kekuasaan dalam pemerintahan dapat dicegah sedini mungkin.
            Demokrasi kapitalis, dibangun di atas landasan empat pilar besar, yakni:
       I.            Kebebasan politik, membolehkan setiap suara individu untuk didengar dan setiap pandangan untuk dihargai dalam menetapkan kesejahteraan umum bangsa, perencanaan, pembangunan, dan penunjukan para pejabat terkait guna menjamin kebebasan tersebut. Karena keseluruhan sistem bangsa dan orang yang memerintah terkait langsung dengan kehidupan setiap individu, dan mempengaruhi kebahagiaan dan kesengsaraannya, maka kiranya wajar bila setiap individu memiliki hak berpartisipasi di dalam sistem maupun organisasi pemerintahan dan ikut membangunnya.
    II.            Kebebasan ekonomi, didasarkan kepercayaan terhadap ekonomi bebas, yang di atasnya dibangun kebijaksanaan “pintu terbuka” yang memutuskan untuk membuka semua pintu dan menyediakan semua lapangan bagi rakyat dalam bidang ekonomi. Dengan demikian, masing-masing orang bebas untuk mempunyai kebutuhan konsumsi atau pun produksi. Kepemilikan produktif seperti itu yang mendongkrak penumpukan modal dan keuntungan besar-besaran tanpa batas, sama-sama diperbolehkan bagi setiap orang. Masing-masing individu mempunyai kebebasan mutlak guna berproduksi, dengan norma atau metode apa pun, menumpuk, menambah, dan memperbanyak kekayaan demi kepentingan dan keuntungan pribadinya sendiri.
 III.            Kebebasan intelektual artinya bahwa setiap orang mesti bebas mempercayai doktrin-doktrin atau keyakinan-keyakinan yang selaras dengan penalaran mereka sendiri atau pun apa saja yang diilhamkan oleh kesenangan dan kecenderungan mereka, tanpa harus dihalang-halangi oleh pihak mana pun, serta memiliki kebebasan untuk menjalankan haknya dalam menyebarkan gagasan-gagasan dan kepercayaannya, sekaligus mempertahankannya.
 IV.            Kebebasan pribadi, mengekspresikan kebebasan manusia dalam perilakunya, dari berbagai macam tekanan dan pembatasan. Oleh karena itu, ia mempunyai kehendaknya sendiri dan kebebasan untuk meningkatkannya sesuai dengan hasrat pribadinya, tanpa peduli akan akibat atau konsekuensi dari perilaku tersebut. Batas akhir dari kebebasan pribadi seseorang, adalah kebebasan orang lain. Artinya ketika perilaku seseorang sudah mengganggu kebebasan orang lain, maka saat itulah dia harus berhenti.
            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat difahami bahwa sistem demokrasi kapitalis sangat individualistik dan tidak menghargai rasa kemanusiaan yang mendasar dan universal, seperti tolong menolong, hakikat berbagi, persaudaraan, dan lain-lain. Sistem ini mendorong setiap individu untuk mendapatkan modal sebanyak-banyaknya dan usaha yang intens untuk menjalankan usahanya demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, dengan menekan biaya operasional seminimal mungkin. Selain itu, dalam prakteknya para pemilik modal menuntut kaum buruh untuk memberikan jasa yang jauh lebih tinggi ketimbang pembayaran yang mereka terima.
            Dalam perkembangan selanjutnya, ketika modal yang dimiliki kaum kapitalis semakin membengkak, modal itu pun digunakan untuk membeli mesin-mesin baru yang mempunyai kapasitas ratusan kali tenaga manusia sehingga sektor produksi pun bertumpu pada mesin-mesin produksi yang lebih efektif dan akibatnya tenaga buruh tidak diperlukan lagi, yang pada gilirannya berujung pada pemutusan hubungan kerja. Berdasarkan semua penjelasan di atas, jelaslah bahwa disinilah letak tidak manusiawinya sistem ini, sehingga kemudian gagal menjadi solusi bagi ummat manusia dalam mewujudkan kesejahteraannya.
2.      Sosialisme berasal dari bahasa latin, yakni Socius yang artinya teman, merupakan faham yang meng-agung-agungkan kolektivitas sebagai jalan untuk meraih kemakmuran. Atau dengan kata lain, bahwa sosialisme adalah faham yang menjadikan kebersamaan sebagai tujuan hidup manusia, serta mengutamakan segala aspek kehidupan bersama.
            Dalam sistem ini, kepentingan bersama harus mendapatkan porsi yang utama ketimbang kepentingan pribadi. Sehingga dengan demikian negara menjadi regulator dalam sistem ekonomi, akan tetapi hak kepemilikan pribadi tetap diakui. Masyarakat yang dicita-citakannya, yakni yang berprinsip “oleh kita semua dan untuk kita semua”. Perhatian utama sosialisme adalah masyarakat, bukan individu. Sosialisme berorientasi pada prinsip pengendalian modal, produksi, dan kekayaan oleh kelompok. Oleh karena itu, sosialisme bisa dianggap sebagai lawan dari liberalisme, dan lahir sebagai akibat dari perkembangan kapitalisme.
            Istilah sosialisme muncul pertama kali dalam artikel karya Alexander Vinet di Prancis pada tahun 1831. Sosialisme saat itu digunakan untuk membedakan dengan individualisme. Istilah itu banyak digunakan oleh pengikut-pengikut Saint Simon, Bapak Sosialisme Prancis. Saint Simon tercatat yang pertama menganjurkan pembaruan pemerintahan untuk mengembalikan harmoni pada masyarakat.
            Munculnya sosialisme seiring dengan terjadinya Revolusi Prancis pada abad XIX. Salah satu tokoh yang mengemukakan teori sosialisme klasik adalah Francois Emile Babeuf. Ia mendirikan Conspiracy of Equals (konspirasi kesetaraan) untuk merebut kekuasaan yang ada dengan dasar kesetaraan mereka. Sosialisme juga berorientasi pada terbentuknya sebuah rezim diktator agar bisa mengumpulkan semua kekayaan yang ada kemudian mendistribusikannya secara merata.
            Sosialisme tumbuh subur di Eropa pada abad XIX. Saat itu terjadi krisis hebat akibat kapitalisme. Saat itu kaum buruh Eropa Barat mengalami masa kritis karena berkembangnya industrialisasi dan perdagangan, sementara di sisi lain upah buruh sangat minim. Saat itu pun wanita dan anak-anak di bawah umur dipekerjakan dengan jam kerja yang semakin panjang.
            Kondisi buruh dan masyarakat tersebut mendorong para cendekiawan seperti Robert Owen (Inggris), Saint Simon, dan Fourier (Prancis) untuk memperbaikinya. Mereka bergerak atas dasar rasa peri kemanusiaan dan angan-angan belaka tanpa dilandasi dengan konsep yang jelas. Oleh karena itu, mereka pun disebut kaum sosialis utopia. Mereka mendambakan terciptanya masyarakat yang bahagia. Masyarakat tersebut sering disebut dengan kaum sosialis utopis (utopis berasal dari kata utopia yang berarti impian). Utopia adalah nama sebuah buku yang dikarang oleh Thomas More. Dan pengikutnya antara lain Robert Owen, Saint Simon, Fourier, Louis Blance, dan Proudhon.
            Pada abad XIX Karl Marx menciptakan sosialisme berdasarkan ilmu pengetahuan, yang kelak berkembang menjadi komunisme. Dan teorinya disebut Historis Materialisme. Teori ini menyebutkan bahwa jalan sejarah ditentukan oleh material (benda) secara dialektis menuju masyarakat sosialistis. Dengan kontribusinya inilah, sehingga banyak para ahli yang menyebut bahwa komunisme adalah turunan dari sosialisme.
3.      Komunisme, merupakan turunan dari sistem sosialisme, di mana dalam sistem ini, seluruh hak kekayaan individu dikuasai oleh negara, atau dengan kata lain bahwa hak kepemilikan dan kekayaan materi secara pribadi tidak diakui.
            Komunisme mendasarkan pada Marxisme dan Leninisme. Dengan begitu, komunisme adalah faham yang lahir dari teori Karl Marx dan muridnya Lenin. Karl Marx, pencetus Marxisme menganggap negara sebagai susunan golongan masyarakat yang dibentuk untuk menindas golongan lain. Pemilik modal menindas kaum buruh. Menurut Karl Marx, kaum buruh perlu membuat revolusi untuk merebut kekuasaan negara dari golongan kapitalis dan borjuis (orang-orang kaya). Dengan ini kaum buruh akan menjadi penguasa dan dapat mengatur negara.
            Tokoh utama lainnya yang berperan di balik lahirnya komunisme, adalah Lenin, yang merupakan murid dari Karl Marx. Lenin, juga yang berperan besar dibalik lahirnya faham ini. Komunisme dapat juga disebut sebagai Marxisme sebagaimana yang dipersepsikan atau diinterpretasikan oleh Lenin. Lenin berpendapat bahwa komunisme adalah kelanjutan dari Marxisme, masyarakat komunal sebagaimana diangankan oleh Karl Marx ditafsirkan Lenin sebagai Masyarakat tanpa sekat. Lenin juga mengajarkan ajaran tentang perebutan kekuasaan oleh partai, atau dengan kata lain melalui jalur politik. Hal ini tidak pernah dipikirkan oleh Karl Marx. Ajaran Karl Marx bersifat umum, yakni tidak berfikir ke arah politik, sementara ajaran Lenin meliputi strategi dan taktik perjuangan kaum proletariat dengan pimpinan partai komunis.
            Dengan demikian, ada beberapa ciri utama dari sistem komunisme, yang membedakannya dari sistem yang lain, diantaranya adalah:
       I.            Menghilangkan kepemilikan swasta dan melenyapkannya sama sekali dari masyarakat, memberikan kekayaan kepada masyarakat dan meletakkannya dalam tangan negara sebagai wakil yang sah dari masyarakat untuk mengelolanya dan menggunakannya guna kesejahteraan bersama.
    II.            Distribusi hasil-hasil produksi disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi para individu. Artinya adalah, dari masing-masing orang dituntut sesuai dengan kemampuannya.
 III.            Prosedur ekonomi yang dirancang oleh negara, yang di dalamnya masing-masing negara menggabungkan kebutuhan masyarakat itu dengan produksi dalam volume, keragaman, dan batasannya sedemikian rupa sehingga masyarakat harus merasa cukup dengan sistem regulasi dari negara. Ada pun cirinya, adalah:
·         Tidak ada kebebasan memilih pekerjaan.
·         Perekonomian ditentukan, dirancang, dan dikuasai oleh negara.
·         Tanpa persaingan ekonomi pasar.
·         Seluruh harta kekayaan menjadi milik negara.
 IV.            Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan atau kesejahteraan rakyat dengan tindakan revolusioner.
    V.            Menciptakan konflik untuk mengadu golongan-golongan tertentu.
 VI.            Komunisme tidak mengakui adanya Tuhan (atheisme), tapi lebih mengutamakan materi.
VII.            Masyarakat komunis bercorak internasional. Artinya, masyarakat yang dicita-citakan komunisme adalah masyarakat dunia, tanpa nasionalisme.
VIII.            Komunisme bercita-cita menciptakan masyarakat tanpa kelas. Pertentangan kelas, hak milik pribadi, dan pembagian kerja dianggap akan menjauhkan dari suasana hidup yang aman dan tenteram.
 IX.            Pemerintah dipimpin oleh satu partai, yaitu partai komunis. Pemerintahan bersifat diktator proletariat.
    X.            Komunisme merupakan sistem pemerintahan tunggal. Usaha menciptakan masyarakat yang hanya terdiri dari satu macam kelas dilakukan dengan menghancurkan kaum borjuis (orang-orang kaya). Setiap individu merupakan alat yang digunakan pemerintah untuk mencapai tujuan negara. Oleh karena itu, seluruh penduduk wajib bekerja untuk negara.
 XI.            Meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cara diktator proletariat, terutama pada masa-masa peralihan (transisi).
XII.            Negara hanya diperlukan untuk sementara waktu saja, selama belum mencapai kesejahteraan.
            Keinginan untuk menyejahterakan seluruh masyarakat dalam suatu negara, adalah obsesi dari sistem komunisme, akan tetapi faham ini berhubungan erat dengan aliran materialisme. Hal ini disebabkan karena Karl Marx yang merupakan sosok sentral dari ideologi ini, menganut filsafat materialisme, dan menurut pandangannya, materi lebih dulu ada dari pada roh spiritual atau logika. Materilah yang menciptakan pikiran dan segala hal yang dikatakan berasal dari pikiran. Segala sesuatu yang ada dianggap berasal dari dunia material. Akal adalah produk dari otak, dan otak itu sendiri muncul dari perkembangan materi hidup (makhluk hidup). Selain itu dia berpendapat bahwa tata surya bukan merupakan ciptaan Tuhan, dan tidak meyakini eksistensi Tuhan, bahkan alam semesta mengatur dirinya sendiri melalui proses revolusi tanpa henti. Hal inilah yang kemudian menyebabkan faham ini tidak mengakui adanya Tuhan (atheisme) dan lebih mengutamakan materi.
            Komunisme menolak sama sekali kehadiran kaum kapitalis yang ingin menguasai modal secara privat. Hal ini bisa dimaklumi karena sistem ini memang muncul akibat reaksi dari kapitalisme. Faham ini mendasarkan gagasannya pada pemikiran Karl Marx dan Lenin, bahwa ekonomi masyarakat ditandai dengan adanya pertentangan antara kelas atas (kaum kapitalis, pemilik modal) dan kelas bawah (kaum proletar, buruh) yang hanya memiliki jasa. Kaum kapitalis ingin meningkatkan keuntungan dengan menekan biaya produksi, ada pun kaum proletar berusaha meningkatkan pendapatannya, darinya itu untuk mendamaikan keduanya, negara boleh mengatur apa saja berkaitan dengan kepemilikan modal. Negaralah yang berhak memiliki modal dan menyalurkannya kepada rakyat.
            Tanpa penghargaan terhadap kepemilikan pribadi, hal ini tentunya bertentangan dengan fitrah manusia yang dilahirkan untuk memiliki kemerdekaan dalam bentuk pilihan yang mesti dipertanggung jawabkan. Bagaimana pun manusia butuh ruang kebebasan untuk menyalurkan kreativitasnya dalam bentuk apa pun, sehingga dengan demikian manusia berhak untuk melakukan klaim atas karya-karya dari kreativitasnya itu. Menghilangkan hak kepemilikan pribadi dalam hal ini, adalah bentuk kedzaliman yang berarti adalah pelecehan terhadap hak asasi manusia. Selain itu, komunisme yang berakar pada filsafat materialisme yang pada gilirannya berujung pada sikap atheisme, juga tidak sejalan dengan fitrah kemanusiaan yang paling fundamental. Bagaimana pun mengingat Tuhan adalah satu-satunya sumber kebahagiaan yang paling utama bagi manusia karena dari-Nyalah segala sumber kebahagiaan, dan tidak ada seorang pun yang berhak merenggut dorongan naluri manusia untuk mengakui eksistensi Tuhan karena pada dasarnya manusia secara asasi berhak untuk hal itu dan berdasarkan keyakinannya, dia memiliki otoritas untuk memilih salah satu diantara sekian banyak keyakinan, atau yang biasa kita sebut agama, terlepas dari apakah agama tersebut benar atau tidak dalam perspektif ketuhanan yang darinya disampaikan oleh risalah wahyu Tuhan.
4.      Islam tidak hanya berfungsi sebagai ajaran yang sakral dan otentik dari Allah swt, akan tetapi juga merupakan sistem sosial yang idealis dan praktis andai saja ummat manusia mau jujur terhadap suara hati nuraninya masing-masing.
            Kebebasan dalam Islam, adalah ekspresi dari keyakinan sentral (yakni, kepercayaan pada Tuhan) yang darinya kebebasan itu mendapatkan revolusinya. Selain itu, kebebasan menjaga aspek revolusioner dari kebebasan untuk membebaskan manusia dari kekuasaan segala bentuk berhala, segala berhala yang dalam genggamannya ummat manusia telah menderita sepanjang sejarah. Akan tetapi, dalam Islam menegakkan tugas kewajiban yang besar untuk pembebasan ini berdasarkan ketundukan kepada Tuhan semata. Oleh karenanya, ketundukan manusia kepada Tuhan di dalam Islam (bukan kepemilikan dirinya sendiri menurut kapitalisme) menjadi suatu senjata bagi ummat manusia untuk meluluhlantakkan seluruh norma ketundukkan dan perbudakan, lantaran jenis ketundukkan kepada Tuhan dalam pengertiannya yang luhur membuat dia merasa bahwa dia bersama-sama dengan seluruh jenis kekuasaan dengan apa ia sama-sama berada sama derajatnya di hadapan Tuhan. Karena itu tidak ada suatu kekuatan di muka bumi yang memiliki hak untuk sesukanya memutuskan nasibnya sendiri atau menguasai eksistensi dan kehidupannya.
            Bagi Islam, kebebasan terikat secara hakiki dengan ketundukan kepada Tuhan yang maha esa. Islam tidak menghendaki manusia untuk menyerah, diperbudak atau menyerahkan kebebasannya. “Janganlah kalian menjadi budak orang lain, karena Allah menciptakan kalian (dalam keadaan) bebas”. (Ali bin Abi Thalib, Nahj al-Balaghah). Menurut Islam, manusia akan dimintai pertanggungjawabannya atas pemanfaatan kebebasannya, kebebasan bukanlah sesuatu yang tidak diikuti oleh tanggung jawab.
            Dalam memandang kebebasan, Islam sangat berbeda tentunya dengan peradaban barat, karena Islam memperhatikan kebebasan dan implikasi negatifnya, atau lebih tepatnya dalam output revolusionernya yang membebaskan ummat manusia dari kekuasaan sesamanya, memutuskan belenggu-belenggu dan rantai yang mengikatnya. Islam menganggap pencapaian implikasi negative dari kebebasan ini sebagai salah satu dari tujuan-tujuan risalah Ilahi itu sendiri.
            “…dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…” (QS. Al-A’raaf/7: 157.
            Akan tetapi Islam tidak menghubungkan konsep ini kepada implikasi positifnya menurut konsep-konsep peradaban Barat lantaran Islam tidak menganggap hak manusia untuk membebaskan dirinya dari kendali orang lain dan berdiri sejajar dengan mereka sebagai akibatnya dari penguasaan manusia atas dirinya sendiri dan haknya untuk memutuskan tindak-tanduk dan tata cara dalam kehidupan, yaitu apa yang kita sebut “implikasi positif dari kebebasan menurut konsep peradaban Barat”. Alih-alih Islam menautkan kemerdekaan dan kebebasan dari seluruh jenis seluruh jenis berhala dan belenggu-belenggu dengan ketundukan kepada Tuhan secara ikhlas, karena manusia, di atas segala-galanya adalah hamba Tuhan yang tidak mengakui ketundukan kepada apa pun atau siapa pun selain kepada-Nya atau ketundukan kepada hubungan keberhalaan yang bagaimana pun corak dan bentuknya. Alih-alih manusia berkedudukan sama tinggi dengan semua makhluk lainnya dalam ketundukannya yang ikhlas kepada Tuhan.
            Oleh karena itu, fondasi esensial kebebasan dalam Islam adalah kesatuan dan kepercayaan dalam ketundukan yang ikhlas kepada Tuhan, yang dihadapan-Nya seluruh kuasa keberhalaan dihancurkan, kekuasaan-kekuasaan yang menginjak-injak martabat manusia sepanjang sejarah.
            “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali-Imran/3: 64)
            Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shaffaat/37: 95-96)
            “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu…” (QS. Al-A’raaf/7: 194)
            “…manakah yang baik, Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf/12: 39)
            Begitulah Islam meletakkan fondasi kebebasan dari segala jenis perbudakan di atas prinsip pengakuan akan ketundukan mutlak kepada Tuhan, yang menjadikan manusia dengan Tuhannya menjadi pijakan yang berakar kokoh bagi kebebasannya dalam berurusan dengan seluruh manusia dan dengan semua hal yang alamiah di dalam kosmos.
            Gagasan kebebasan dalam Islam telah dijadikan sebagai doktrin kepercayaan yang beriman pada ke-Esaan Tuhan, dan kepada keyakinan yang kokoh atas kekuasaan-Nya terhadap alam semesta. Semakin dalam keimanan ini terhunjam di dalam hati seorang Muslim, dan semakin terpusat pandangan tauhidnya kepada Allah swt, maka semakin meningkat juga jiwanya dan semakin dalamlah perasaannya akan martabat dan kebebasannya dan semakin keraslah kemauannya untuk berdiri kokoh menghadapi tirani, kerusakan, dan perbudakan oleh hal-hal lain.
            “Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri”. (QS. As-Syuaraa/42:39)
            Kebebasan dalam masalah pribadi menurut pandangan Islam, amatlah revolusioner lantaran kebebasan bermula dari ketundukan yang murni kepada Allah swt untuk kemudian berakhir dengan pembebasan dari seluruh jenis norma perbudakan yang menistakan.
            Islam mengawali operasinya untuk memerdekakan manusia dari batin manusia itu sendiri, karena Islam menyaksikan bahwa memberikan kebebasan atau kemerdekaan kepada manusia bukanlah dengan mengatakan kepadanya: “Inilah jalan kami. Kami telah membukanya untuk anda, maka berjalanlah dengan damai”. Alih-alih, manusia menjadi bebas dengan sebenarnya, ketika ia mampu mengendalikan jalannya sendiri dan menjaga serta mempertahankan kemanusiawiannya, hak untuk menetapkan jalannya sendiri dan menggariskan karakteristik-karakteristiknya berikut arahnya. Hal ini di atas segalanya, bergantung pada pembebasan manusia dari perbudakan nafsu-nafsu yang menguasai pikirannya, sehingga nafsu-nafsunya bisa menjadi sarana yang menarik manusia kepada apa yang diinginkan manusia itu, bukan sebagai kekuatan pendorong yang melelahkan kehendak manusia tanpa bisa menggunakan kehendak tersebut untuk suatu potensi atau kapasitas apa pun yang dipunyainya. Pasalnya, sekiranya manusia hanya digerakkan oleh hawa nafsunya saja, maka berarti ia telah kehilangan kebebasannya. Akan sama saja kenyataannya, seandainya tangannya bebas, tetapi pikirannya dan segenap konsep kemanusiawiannya yang membedakan manusia dari dunia binatang terbelenggu dan beku.
            Sementara itu, kebebasan dalam bidang sosial berdasarkan perspektif Islam, dalam hal ini Islam memberangus di dalam batin manusia, berhala-berhala hawa nafsu, yang menjarah darinya kebebasan kemanusiaanya. Dalam hubungan timbal balik antara individu-individu, Islam memberangus juga berhala-berhala sosialnya. Islam membebaskan manusia dari perbudakannya. Islam mengakhiri penyembahan manusia terhadap sesama manusia.
            “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali-Imran/3: 64)
            Ketundukan manusia kepada Allah swt menjadikan seluruh manusia berdiri sederajat di hadapan Sang Maha Pencipta yang disembah. Tiada suatu bangsa yang berhak menjajah dan memperbudak bangsa lain. Tidak ada pula satu kelompok masyarakat yang boleh merampok kelompok masyarakat lain atau menyerang kebebasannya. Tidak ada seorang makhluk manusia yang berhak untuk menempatkan dirinya sebagai berhala untuk disembah oleh manusia-manusia lain.
            Islam membebaskan manusia secara batiniah dari kekuasaan hawa nafsunya, dan itu pun dipergunakan dalam seluruh epik Islam, yakni tauhid. Selagi manusia mengakui ketundukan diri kepada Allah swt saja secara otomatis ia akan mengingkari setiap berhala atau penyembahan batil terhadap seorang manusia atau suatu makhluk. Ia akan mengangkat kepalanya tetap tegak dengan sikap terhormat dan ia tidak akan merasakan kenistaan perbudakan dan ketundukan kepada suatu kekuatan apa pun di muka bumi atau suatu berhala. Fenomena penyembahan berhala di dalam kehidupan manusia telah muncul karena dua alasan:
1.      Perbudakan oleh hawa nafsunya sendiri yang menjadikan manusia menyerahkan kebebasannya pada berhala manusia yang bisa memuaskan dan menjamin pemenuhan nafsu itu.
2.      Adalah ketidaktahuanya mengenai kelemahan dan ketidakmampuan yang ada di balik kedok-kedok keberhalaan yang mendakwakan paham ketuhanan.
            Islam membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu, sebagaimana yang telah kita ketahui dari pembahasan sebelumnya dan dari kebatilan kedok-kedok keberhalaan yang memperdaya:
            Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS. Al-A’raaf/7: 194).
            Sudah tentu di sini berarti bahwa Islam menaklukkan penyembahan berhala dan membersihkan pikiran-pikiran Muslim dari segala bentuk rupa dan penyembahan berhala yang beraneka.
            Islam berbeda dengan peradaban-peradaban Barat modern yang tidak membatasi kebebasan praktis dari individu selain kebebasan orang lain. Islam pertama-tama sekali memerhatikan sebagaimana yang telah kita maklumi pembebasan individu dari perbudakan hawa nafsu dan berhala dan memungkinkannya untuk berlaku mengikuti keinginannya sendiri selagi ia tidak melabrak batas-batas yang ditetapkan Allah. Al-Qur’an mengatakan,
            Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah/2: 29)
            Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jaatsiyah/45: 13).
            Dari sini, Islam menempatkan kosmos atau alam raya dalam keseluruhannya demi kepentingan manusia dengan kebebasannya, namun Islam membatasi kebebasan pada batas-batas yang menjadikannya selaras dengan pembebasan batinnya dari perbudakan dan pembebasan lahiriahnya dari perbudakan berhala. Perihal kebebasan praktis dalam melindungi hawa nafsu dan keduniawian berikut seluruh hal yang terimplikasi di dalamnya, melawan kebebasan manusia dalam makna yang benar perihal kebebasan praktis dalam berdiam diri terhadap kedzaliman dan pemerkosaan hak, menyembah berhala-berhala dan mendekatkan diri kepadanya, mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri, dan meninggalkan tugas besar manusia yang hakiki dalam kehidupan ini, semua ini tidak diperbolehkan dalam Islam pasalnya, semua hal itu tidak lain adalah penghancuran terhadap makna kebebasan yang paling dalam dari manusia. Bahkan, Islam memahami kebebasan sebagai bagian dari rencana intelektual dan spiritual yang paripurna, yang di atas dasarnya kemanusiaan mesti tegak berdiri.
            Pembebasan manusia secara politik, bersumber pada kepercayaan akan persamaan seluruh elemen masyarakat dalam menanggung beban-beban amanat Ilahi di dalam kerjasama mereka menegakkan perintah-perintah Allah Yang Maha Kuasa. Sebuah riwayat menyebutkan: “Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya”. Persamaan politik dalam Islam berbeda dalam bentuk dengan persamaan politik persamaan politik dalam pandangan Barat. Persamaaan politik dalam Islam adalah persamaan dalam memikul beban tanggung jawab, bukan di dalam memerintah.
            Pembebasan manusia di bidang politik, lepas kekuasaan orang-orang lain dan penghilangan seluruh norma eksploitasi politik, pemerintahan individualistis dan pemerintahan golongan.
            Karena itulah Al-Qur’an menentang pemerintahan Fir’aun maupun kelompok masyarakat yang dipergunakannya untuk memerintah, karena ia menyimbolkan penguasaan individu terhadap pemerintahan dan dominasi suatu kelas atas kelas-kelas masyarakat lainnya.
            Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka,…” (QS. Al-Qashash/28:4)
            Struktur politik apa pun yang memperkenankan individu atau suatu golongan mengeksploitasi atau pun menundukkan individu atau golongan-golongan lainnya, tidaklah diterima dan diakui oleh Islam, lantaran struktur politik seperti itu menentang persamaan diantara elemen-elemen masyarakat dalam memikul tanggung jawab dalam ketundukan mutlak mereka kepada Allah swt.
            Islam menyerukan kebebasan dan jaminan ekonomi, menyatukannya dalam suatu struktur yang terpadu, lantaran seluruh manusia adalah bebas di bidang ekonomi, kecuali dalam batas-batas tertentu. Individu tidaklah bebas manakala keamanan para individu lainnya dan pemeliharaan kesejahteraan umumnya menuntut bahwa ia mesti memberikan sebagian dari kebebasannya.
            Islam bersimpang arah dari kapitalisme demokrasi sebagai akibat dari perbedaan watak yang darinya dasar pijakan intelektual diambil, yakni tauhid dan menautkan alam raya kepada Tuhan yang tunggal. Islam memperbolehkan pikiran manusia untuk muncul dan menyatakan dirinya selama ia tidak membangkang terhadap fondasi intelektualnya, yang merupakan fondasi kebebasan bagi manusia, menurut Islam, dengan memberikan kepadanya karakter yang merdeka dan luhur yang tidak meleleh di hadapan hawa nafsu, tidak pula berlutut di hadapan berhala-berhala. Entah peradaban Barat maupun Islam memperkenankan kebebasan berfikir selagi tidak ada bahaya yang diakibatkan olehnya terhadap dasar esensial dan kebebasan itu sendiri.
            Menurut Islam, untuk menciptakan pikiran merdeka manusia mesti memupuk pikiran analitis atau eksperimental yang tidak menerima suatu gagasan tanpa penelitian, dan tidak juga percaya pada suatu doktrin melainkan apabila ia terbukti, sehingga pikiran yang waras dan waspada ini mampu memastikan kebebasan intelektual dan melindungi manusia dari menyelewengkannya lantaran peniruan fanatisme, atau keberatan-keberatannya. Pada kenyataannya, justru inilah andil perjuangan Islam dalam pembebasan batin manusia. Seperti halnya Islam membebaskan keinginan manusia dari perbudakan hawa nafsu, sebagaimana kita telah maklumi sebelumnya, begitu juga ia membebaskan kesadaran manusia dari perbudakan peniruan, fanatisme, dan takhayul. Entah dalam kebebasan yang pertama maupun yang kedua, sebenarnya manusia telah menjadi bebas di dalam pikiran maupun kehendaknya.
            “... sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar/39: 17-18)
            “… Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,” (QS. An-Nahl/16: 44)
            “… Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS. Al-Baqarah/2: 111)
            “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al-Baqarah/2: 170)
            Inti dari ideologi komunisme, adalah jaminan sosial. Dan negara memiliki tanggung jawab yang besar, untuk memastikan hal itu. Akan tetapi dalam banyak hal, jaminan dalam Islam berbeda dengan jaminan sosialis berdasarkan prinsip-prinsip Marxisme atau komunisme, lantaran perbedaan antara kedua sistem jaminan tersebut di dalam dasar-dasar pijakan, kerangka kerja dan tujuan-tujuannya.
            Jaminan sosial di dalam Islam, ini merupakan salah satu dari hak-hak asasi manusia yang diwajibkan Allah swt. Oleh karenanya, jaminan sosial itu tidaklah berbeda menurut keadaan atau kedudukan warga Negara. Menurut komunisme, jaminan sosial lebih menyerupai hak mesin dari pada hak manusia. Manakala mesin produksi telah mencapai suatu titik tertentu, maka jaminan sosial menjadi suatu syarat esensial untuk pertumbuhannya dan peningkatan produksinya. Tatkala kekuatan-kekuatan produksi belum mencapai titik ini, maka gagasan seputar jaminan sosial tidaklah berarti apa-apa. Karena alasan ini, komunisme memandang jaminan sosial hanya menjadi milik kelompok termasuk pada masyarakat tertentu selama suatu periode yang terbatas dalam hidup mereka.
            Konsep Islam dalam praktik jaminan sosial. Ini merupakan hasil dari simpati kebapakan yang eksis dalam masyarakat Islam. Persaudaraan Islam merupakan suatu kerangka yang menyelenggarakan peranan jaminan sosial dalam masyarakat. Hadits Nabi saw menyebutkan: ”Seorang Muslim adalah saudara dari setiap Muslim, ia tidak akan berbuat dzalim kepadanya, tidak juga ia akan menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya. Ia tidak akan merampas hak-haknya. Oleh karenanya, kaum Muslimin mesti bertabah hati dalam persatuan, saling berziarah (bersilaturahim) sesama mereka, saling bekerja sama dan memberikan ketentraman kepada orang-orang miskin”.
            Sebagai hak asasi manusia, jaminan sosial, menurut Islam tidak memberikan perbedaan antara suatu kelompok masyarakat dari pada kelompok lainnya. Bahkan Islam menegaskan pada orang-orang yang sama sekali tidak mampu untuk ambil bagian dalam produksi masyarakat. Mereka dijamin dalam naungan masyarakat Islam, dan negara harus mempersiapkan sarana untuk mendapatkan nafkah bagi mereka. Sementara jaminan sosial komunisme, mendapatkan eksistensinya dari perjuangan kelas buruh dan kelas pemodal yang hasilnya adalah kemenangan bagi kelas buruh dan kerja samanya serta peran kelas buruh dalam menikmati kekayaan.
            Jaminan sosial dalam komunisme hanyalah tanggung jawab Negara semata-mata. Dalam Islam, jaminan sosial merupakan tanggung jawab baik para individu maupun Negara. Oleh karenanya, Islam mengajukan dua prinsip, yakni prisip kerja sama dan prinsip jaminan sosial.
1.      Prinsip kerja sama, artinya bahwa masing-masing individu Muslim bertanggung jawab untuk menjamin mata pencarian orang lain sesuai kemampuannya. Kaum Muslim mesti menerapkan prinsip ini dalam keadaan yang di dalamnya tidak ada Negara yang menunaikan perintah-perintah ini. Hadits Nabi saw menyatakan: “Setiap mukmin yang merintangi seorang mukmin lainnya untuk memakai sesuatu yang diperlukannya, sementara ia atau seorang lainnya mampu untuk memberikan kebutuhan tersebut, maka Allah akan membangkitkan dia pada hari pengadilan dengan wajah hitam, dengan mata biru dan dengan kaki tangannya terikat ke tengkuknya. Akan dikatakan kepadanya, “Inilah pengkhianat yang telah mengkhianati Allah dan Rasulnya”, kemudian ia akan dilemparkan ke dalam api neraka”.
2.      Prinsip jaminan sosial memutuskan tanggung jawab Negara. Negara semestinya menjamin tingkat kesejahteraan bagi seluruh warga Negara dari kas Negara dan sumber-sumber pendapatan lainnya berikut juga dari anggaran belanjanya. Untuk menjabarkan prinsip ini, hadits Nabi saw menyatakan: “Pemerintah menerima kekayaan dan mendistribusikannya, selaras dengan perintah Allah, kepada delapan bagian: Orang fakir, orang miskin, pengumpul dan pengatur zakat, (dank humus), orang-orang yang tidak keberatan untuk menolong kaum Muslim, para budak, orang-orang yang tidak mampu membiayai ongkos perjalanannya untuk pulang ke rumahnya. Delapan bagian itu, ia bagikan diantara mereka itu tanpa ada pengetatan atau pun ketakutan (akan habis). Apa saja yang tersisa mesti diserahkan kepada pemerintah. Apabila kurang dan orang-orang tidak memperoleh secukupnya, maka Negara mesti membiayai keperluan mereka dari anggaran belanjanya sendiri dengan kebutuhan itu, sehingga mereka semua memperoleh secukupnya”.
            Harapan terbesar ummat manusia, ada pada ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin serta komitmen yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan ajaran Islam berdasarkan kedua sumbernya yang otentik, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang pernah diimplementasikan pada masa generasi al-salaf al-shaleh, yakni generasi Nabi saw bersama para sahabatnya, Tabi in dan Tabi ut tabi in, sebagai tiga generasi terbaik yang pernah tercatat dalam sejarah klasik ummat Islam. (dikutip dari berbagai sumber).



JAYALAH IMM
ABADI PERJUANGAN KITA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar