Translate

Senin, 16 April 2018

FITRAH ANAK CUCU ADAM

Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup didunia ini. Anak adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita, masing-masing dari kita berharap anaknya menjadi anak yang baik, dan maka dari itu di-butuhkan optimalisasi tanggung jawab dan peran dari orang tua. Meskipun pada dasarnya seorang anak lahir di atas fitrah, akan tetapi ini tidak berarti kita membiarkannya tanpa pengarahan dan bimbingan yang baik dan terarah, karena sesuatu yang baik jika tidak dijaga dan dirawat, ia akan menjadi tidak baik akibat pengaruh faktor-faktor eksternal. Pendidikan dan pengarahan yang baik terhadap anak sebenarnya sudah harus dimulai sejak anak tersebut belum lahir bahkan sebelum anak tersebut ada di dalam kandungan.
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ
             
Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya? (Hadits shohih bukhari no. 1296).
           
 Berdasarkan Hadits tersebut, dapatlah difahami bahwa setiap anak cucu Adam telah memiliki fitrah (potensi) yang dibawanya sejak lahir dan merupakan anugerah dari Sang Pencipta. Hal ini membawa kita pada pemahaman bahwa anak bukanlah ibarat kertas putih polos yang kemudian diwarnai oleh lingkungannya atau orang tuanya secara berangsur-angsur. Teori ini pernah sangat populer di zamannya, yang dikenal dengan istilah teori “tabula rasa.”
           
Ibnu Hamzah, dalam bukunya; Asbabul Wurud 3 Latar Belakang Historis Timbulnya Hadits-hadis Rasul, mengemukakan asbab al-wurud hadits di atas, sebagai berikut:
             
Dari Aswad :“aku mendatangi rosulullah dan aku ikut perang bersamanya. Kami memperoleh kemenangan namun pada hari itu orang-orang terus saling berbunuhan sehingga merekapun membunuh anak-anak. Hal itu disampaikan kepada rosulullah, maka rosululah bersabda: “ keterlaluan, sampai hari ini mereka masih saling membunuh sehingga banyak anak-anak terbunuh” berkatalah seorang anak laki-laki:” ya rosulullah mereka adalah anak-anak musyrik” kata rosulullah: “ketahuilah,  sesungguhnya penopang kamu adalah anak-anak orang musyrikin itu. Jangan membunuh keturunan, jangan membunuh keturunan” . kemudian beliaupun bersabda : “ setiap anak yang dilahirkan ,di lahirkan di atas keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?
             
Maka manakala bayi itu di biarkan pada keadaan dan tabiatnya,  tidak ada pengaruh luar yang mempengaruhinya berupa pendidikan yang merusak atau taklid kepada kedua orang tuanya dan yang selainnya niscahya bayi tersebut kelak akan melihat petunjuk kearah tauhid dan kebenaran rosul dan hal ini merupakan gambaran atau nalar yang baik yang akan menyampaikannya kearah petunjuk dan kebenaran sesuai dengan petunjuk yang asli dan dia kelak tidak akan memilih kecuali memilah-milah(agama, ajaran)yang hanif.

Dalam perspektif pendidikan Islam, fitrah manusia di maknai dengan sejumlah potensi yang menyangkut kekuatan-kekuatan manusia. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan hidup (upaya mempertahankan dan melestarikan hidupnya), kekuatan rasional (akal), dan kekuatan spiritual (agama). Ketiga kekuatan bersifat dinamis dan terkait secara integral.

Menurut Nur Ahid, dalam bukunya Pendidikan Agama Dalam Perspektif  Islam menyatakan bahwa , Konsep fitrah, dalam perspektif Islam juga berbeda dengan teori konvergensi oleh william stern. Dalam pandangan Islam perkembangan potensi manusia itu bukan semata-mata di pengaruhi oleh lingkungan semata dan tidak bisa ditentukan melalui pendekatan kuantitas sejauh mana peranan keduanya (potensi dan lingkungan) dalam membentuk kepribadian manusia. 

Mendidik anak dengan cara memberikan kebebasan kepada anak didik sesuai dengan kebutuhan. Tindakan ini dilakukan berkat adanya sabda Nabi Muhammad Saw:
ما من مو لو د الا يو لد عل الفطرت       
Artinya: Tidak seorangpun yang dilahirkan kecuali menurut fitrahnya. 

Sudiyono, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, menyatakan bahwa pemberian kebebasan ini tentunya tidak mutlak, melainkan dalam batas-batas tertentu sesuai dengan kebutuhan, sebab anak adalah objek yang masih dalam proses penyembuhan dan belum memiliki kepribadian yang kuat. Ia belum dapat memilih sendiri terhadap masalah yang dihadapi. Karena itu ia memerlukan petunjuk guna memilih alternatif dari beberapa alternatif yang ada.

Terkait dengan persoalan kefitrian manusia, juga dibahas dalam satu surah yakni (QS. Al-A`raf [7]: 172). Ketika manusia berada di alam ruh telah ditanya oleh Allah: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu”; maka mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (QS. Al-A`raf [7]: 172). Selengkapnya Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Akui ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A`raf [7]: 172).
            
Ayat ini berbicara persoalan fitrah dan akidah yang benar yang ditetapkan oleh Allah di alam gaib yang sangat jauh, yang tersembunyi di dalam sulbi anak-anak Adam sebelum mereka lahir ke alam nyata. Anak keturunan yang masih dalam genggaman Sang Maha Pencipta lagi Maha Pemelihara. Lalu, diambil perjanjian dari mereka dengan mengatakan, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Maka, mereka mengakui rububiyyah Allah, mengakui bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi. Mereka bersaksi bahwa Dia adalah Maha Esa. Persaksian ini telah ditetapkan Allah sebagai fitrah manusia dan menjadi sifat dasar manusia sebagaimana firman Allah: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah” (QS. Ar-Rum [30]: 30).
        
M. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah (2003, XI: 56), menegaskan bahwa fitrah dalam ayat ini berarti agama Islam. Shihab mengutip pendapat Thahir Ibn `Asyur yang menyatakan bahwa prinsip kepercayaan akidah Islam sejalan dengan fitrah akliah manusia.  Adapun hukum-hukum syariat serta rinciannya, maka itu bisa merupakan hal-hal yang juga fitri yakni sesuai serta didukung oleh akal yang sehat, atau bahwa dia tidak bertentangan dengan fitrahnya. Namun Ibn `Asyur menggarisbawahi bahwa ada petunjuk fitrah yang sangat jelas dan ada juga yang samar dan sulit. Para ulama dan cendekiawan bertugas menjelaskan yang samar itu karena mereka yang banyak mengenal tabiat manusia, serta telah teruji pemahaman mereka dengan pengalaman memahami syariat. Hati mereka pun cenderung pada kebenaran, tidak terbelokkan oleh hawa nafsu.
            
Thabathaba`i menulis bahwa agama tidak lain kecuali kebutuhan hidup serta jalan yang harus ditempuh manusia agar mencapai kebahagiaan hidupnya. Manusia tidak menghendaki sesuatu melebihi kebahagiaan. Allah Swt telah memberi petunjuk kepada setiap jenis makhluk melalui fitrahnya dan sesuai dengan jenisnya petunjuk menuju kebahagiaannya yang merupakan tujuan hidupnya. Allah juga telah menyediakan untuknya sarana yang sesuai dengan tujuan itu. Allah berfirman: “Tuhan kita ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS. Thaha [20]: 50).

Anak yang lahir pasti dalam keadaan suci dan mereka sudah membawa fitrah masing masing. Fitrah adalah sesuatu yang ada dalam jiwa seseorang dan memerlukan proses pendidikan untuk mengembangkan fitrah tersebut. Fitrah ini mencakup fitrah keberagamaan, kemampuan, Qada’ dan Qadar. (dikutip dari berbagai sumber).


JAYALAH IMM

SAUDARA TAK SEDARAH


ABADI KEBERSAMAAN

ABADI UKHUWAH

ABADI PERJUANGAN KITA

 
SEMOGA SAMPAI KE JANNAH-NYA



Penulis :
Irfan Iskandar
(Kabid Tabliq dan Kajian Keislaman 
PC IMM Kab. Enrekang Periode 2017 - 2018)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar