Translate

Minggu, 15 April 2018

IRONI PENODAAN AGAMA


            Hal paling ironi yang terjadi akhir-akhir ini adalah maraknya peristiwa penodaan agama yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitar lingkaran istana, mulai dari mantan gubernur DKI Jakarta, yakni Ahok, kemudian Puteri Proklamator Sukmawati Soekarno Puteri, sampai pada gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Orang-orang tersebut bukanlah orang-orang sembarangan, namun merupakan sosok public figure yang seharusnya menjadi panutan dalam mewujudkan hakikat kebhinnekaan yang telah ditetapkan para pendiri bangsa ini. Namun sayang sekali sikap dan perbuatan mereka justru menimbulkan rasa muak di kalangan masyarakat muslim yang notabene mayoritas di negeri ini. Padahal dua dari tiga sosok tersebut mengaku se-aqidah dengan kita.        Pertanyaan mendasar yang kemudian mengemuka adalah bagaimana konsep penodaan agama dalam konstruksi hukum bangsa Indonesia, maupun dalam perspektif Al-Qur’an? Hal ini kiranya penting untuk kita pahami bersama, sehingga kita bisa lebih bijak dalam menyikapi persoalan serupa yang terus bermunculan bak jamur di musim penghujan.
            Secara Umum, menurut para ahli penodaan agama, diartikan sebagai penentangan hal-hal yang dianggap suci atau yang tidak boleh diserang (tabu) yaitu, simbol-simbol agama/pemimpin agama/kitab suci agama. Bentuk penodaan agama pada umumnya adalah perkataan atau tulisan yang menentang ketuhanan terhadap agama-agama yang mapan.
                Aturan pokok yang umumnya digunakan dalam kasus penodaan agama adalah Undang-Undang No /PNPS/Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (UU Penodaan Agama) dan Pasal 156 a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
            Pasal 1 UU PNPS menyatakan “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”
                Secara hukum, tidak ada definisi atau pengertian yang jelas mengenai penodaan agama. Baik Pasal 1 UU PNPS maupun Pasal 156 a KUHAP (pasal penodaan agama) juga tidak memberikan definisi ataupun penjelasan yang jelas soal penodaan agama.
            Hal ini lah yang sering jadi masalah. Tidak adanya definisi yang jelas soal penodaan agama juga bahkan sudah diakui lama dan dinilai menimbulkan persoalan setidaknya oleh Mantan Menteri Agama Surya Dharma Ali.
            Tidak adanya definisi atau penjelasan yang jelas menurut Undang-Undang membuat pasal penodaan agama ini multitafsir, dan tidak memberikan kepastian hukum (pasal karet).
                Padahal di dalam hukum pidana dikenal asas lex certa (bestimmtheitsgebot) yaitu, pembuat undang-undang (legislatif) harus merumuskan secara jelas dan rinci tanpa samar-samar (nullum crimen sine lege stricta), mengenai perbuatan yang disebut dengan tindak pidana (kejahatan, crimes), sehingga tidak ada perumusan yang ambigu mengenai perbuatan yang dilarang dan diberikan sanksi.
            Tidak jelasnya konsep penodaan agama dalam peraturan perundang-undangan membuatnya rentan disalahgunakan (misus). Tak jarang pasal penodaan agama ini dijadikan alat untuk membungkam orang-orang maupun debat-debat atau pandangan kritis. Tergatung kepentingan siapa yang muncul paling dominan, sehingga sudah bukan lagi untuk kepentingan penegakan hukum secara adil namun untuk kepentingan-kepentingan yang lain. Di sisi lain, siapapun bisa menjadi korban ketidakadilan dan kriminalisasi dari pasal penodaan agama yang tidak jelas ini.
            Dengan demikian kita bisa memahami mengapa kasus penodaan agama begitu gencarnya muncul di berbagai daerah di tanah air ini, meski pun negeri ini dikenal sebagai negeri sejuta masjid, dan mayoritas muslim.


            Dalam Islam, penodaan terhadap agama sama halnya dengan penghinaan agama. Istilah penghinaan agama dikenal dengan sabb ad-diin. Penghinaan itu meliputi penghinaan terhadap sumber hukum Islam, yaitu Al-Quran dan hadis serta menyelisihi dan berpaling dari hukum yang ada pada keduanya; penghinaan terhadap Allah dan rasul-Nya. Dalam Islam, penghinaan terhadap agama bertentangan dengan Al-Quran dan hadis, bahkan perbuatan itu merupakan kemurtadan.
            Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
.إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًۭا مُّهِينًۭا
.وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًۭا وَإِثْمًۭا مُّبِينًۭا


“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab (33): 57 – 58).
           
            Ayat tersebut menjelaskan perbedaan antara perbuatan menyakiti Allah dan Rasul serta menyakiti orang mukmin. Perbuatan menyakiti orang mukmin mempunyai implikasi bagi pelakunya yaitu telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. Sedangkan perbuatan menyakiti Allah dan Rasul, bagi pelakunya diancam dengan laknat di dunia dan akhirat serta siksaan yang menghinakan. Ibnu Qudamah menyebutkan, “Siapapun yang menghina Allah, maka dia telah kafir, baik perbuatannya itu dilakukan dengan bergurau maupun dengan sungguh-sungguh.”
 
            Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menuturkan bahwa menghina agama termasuk menghina Allah merupakan dosa besar. Perbuatan ini dapat membatalkan keislaman dan menjerumuskan kepada kemurtadan. Jika orang yang menghina agama atau menghina Allah itu berasal dari orang muslim sendiri, maka dia menjadi murtad (keluar dari Islam) dan kafir yang diseru untuk bertaubat. Jika dia bertaubat, maka kembali menjadi muslim. Namun jika tetap dan tidak mau bertaubat, maka pihak berwenang (ulil amri) dapat menjatuhkan hukuman bunuh setelah dilakukan proses pengadilan di mahkamah syariah. Berkaitan dengan taubat, maka pelaku penghinaan agama itu tetap diajak dan dirangkul untuk bertaubat dengan harapan semoga Allah memberikan hidayah dan menunjukkan kebenaran kepadanya. Demikian juga dijatuhkan hukuman secara bertahap melalui hukuman ta’zir (hukuman yang ditetapkan oleh hakim) berupa hukuman dera dan kurungan penjara sehingga orang tersebut tidak lagi melakukan perbuatan pidana yang dimaksud.
            Penghinaan terhadap agama, terhadap Al-Quran, Rasul, surga dan neraka, perintah-perintah Allah (shalat, zakat, dan sebagainya), itu semua termasuk perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Allah ta’ala berfirman:
.وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
.لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍۢ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (Q.S. At-Taubah (9): 65 – 66).
           
            Maksud dari ayat tersebut di atas, adalah perintah bagi kita semua untuk senantiasa bersikap tegas kepada para penista agama, disebabkan karena kefasikan yang ada dalam hati mereka. hal ini penting karena ajaran agama bukanlah sesuatu yang diturunkan Tuhan untuk menjadi bahan olok-olokan.
            Larangan penghinaan terhadap agama tidak hanya berlaku kepada non-muslim, tetapi juga sebaliknya. Umat muslim pun dilarang menghina agama lain. Allah ta’ala berfirman:
 
وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
 
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am (6): 108).
           
            Ayat tersebut menegaskan bahwa kaum muslimin tidaklah dibenarkan untuk memaki sesembahan-sesembahan ummat lain, apa pun alasannya. Karena apa bila hal itu dilakukan maka tiada bedanya antara ummat Islam dan ummat lain, dan jelas perilaku seperti itu tidak mencerminkan nilai dasar ajaran Islam, sebagai rahmat bagi semesta alam. Tidak hanya sampai di situ akan tetapi Allah swt telah memperingatkan ummat ini bahwa bila hal itu dilakukan maka mereka niscaya akan membalasnya dengan lebih keji lagi.
            Sebagai penutup, izinkan saya mengutip tafsir surah Al-Maidah/5: 51, yang dikemukakan oleh Ust. H. Sandy Rizki Febriadi, Lc., M.A.

            Ibnu Katsir (1998: 123) mengutip dari Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Ubadah bin Ash-Shamit (tokoh Islam dari Bani Auf bin Khazraj) dan Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah) terikat suatu perjanjian dengan Yahudi Bani Qainuqa untuk saling membela. Ketika Bani Qainuqa memerangi Rasulullah Saw., Abdullah bin Ubay tidak melibatkan diri. Sedangkan Ubadah bin Ash-Shamit berangkat menghadap Rasulullah Saw. untuk membersihkan diri kepada Allah dan rasul-Nya dari ikatan perjanjiannya dengan Bani Qainuqa itu, serta menggabungkan diri bersama Rasulullah Saw. dan menyatakan hanya taat kepada Allah dan rasul-Nya. Maka turunlah ayat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Maidah (5): 51).
           
            Ayat ini mengingatkan orang yang beriman untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya serta tidak mengangkat kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka. Ibnu Katsir (1998: 120) menerangkan bahwa Allah ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk loyal terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Allah ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain”. (Q.S. Al-Maidah (5): 51).
           
            Maksudnya, hai orang-orang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, pelindung, penolong kalian. Dan janganlah kalian menyampaikan rahasia urusan kalian kepada mereka. Janganlah merasa tenang atas persahabatan dan kebaikan mereka. Sebab sebagian orang-orang Yahudi itu menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya. Demikian halnya dengan orang-orang Nasrani. Sungguh, mereka telah menyelisihi janji mereka dan bersepakat untuk memusuhimu. Maka bagaimana diperbolehkan mengangkat mereka sebagai kawan kepercayaan. Bagaimana pula dapat dicerna oleh akal jika seorang Nasrani atau Yahudi berkawan dekat dengan dan mengasihi anda. Tetapi dia pun membenci saudara seiman anda. (Al-Jazairy, 2003: 642).

            Dalam Al-Quran terjemah Departemen Agama, kata auliyaa pada ayat di atas merupakan bentuk jamak dari kata waliy yang diartikan dengan pemimpin-pemimpin. Bahkan Dalam At-Tafsir Al-Wasith, Thanthawi (1997: 189) menerangkan kata auliyaa itu bukan sekedar pemimpin, akan tetapi mencakup orang-orang yang sangat dekat, yaitu nashiir (penolong), shadiiq (teman dekat), habiib (teman khusus). Derivasi dari kata tersebut adalah al-wilayah yang berarti keberpihakan dan loyalitas terhadap musuh-musuh Islam dengan menjadikan mereka para penolong, bersatu merapat bersama mereka dan meninggalkan kaum muslimin. Dari sinilah difahami bahwa menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai kawan dekat, kawan akrab, kawan kepercayaan saja tidak diperbolehkan, apalagi menjadikan mereka sebagai pemimpin yang memegang suatu posisi yang strategis. Kemudian pada pertengahan ayat itu, Allah berfirman:

“Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka”. (Q.S. Al-Maidah (5): 51).
           
            Maksudnya, siapa saja yang menjadikan mereka sebagai teman dekat, pemimpin, penolong, dan pelindung. Maka, sungguh dia itu termasuk golongan mereka, sama seperti mereka. Ayat ini merupakan pernyataan yang keras dari Allah ditujukan kepada orang-orang munafik yang berkawan dekat dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mengangkat mereka sebagai kawan dekat sama artinya dengan rela terhadap ajaran agama mereka. Namun demikian, ayat ini menunjukkan bahwa pertemanan dengan non-Islam dalam hal berinteraksi duniawi adalah suatu hal yang diperbolehkan. Selanjutnya, pada penghujung ayat tersebut Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Maidah” (5): 51).
           
            Maksudnya, sungguh orang-orang yang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, penolong, pelindung, dan teman dekat mereka, pada hakikatnya, orang itu telah mendzalimi diri mereka sendiri dengan menaruh loyalitas bukan pada tempatnya. Sungguh, Allah tidak akan memberikan petunjuk baginya kepada kebaikan dan kebenaran karena perbuatan mereka yang loyal terhadap orang-orang kafir.

            Ibnu Katsir (1998: 120) menyebutkan riwayat bahwa Umar bin Khattab memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa mempunyai seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas itu. Umar bin Khattab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata, “Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?” Abu Musa menjawab, “Ia tidak bisa masuk ke tanah haram” Umar bertanya, “Kenapa? Apakah karena dia junub?” Abu Musa menjawab, “Bukan, karena ia seorang Nasrani” Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku serta berkata, “Pecat dia” Umar lalu membacakan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Maidah (5): 51). (dikutip dari berbagai sumber)
 
  
JAYALAH IMM
ABADI PERJUANGAN KITA
ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar