Translate

Minggu, 15 April 2018

UMMAT YANG TERASING




Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain. Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka asing. 
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).
            
Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)
             
Di sisi lain, Imam As-Sindi mengemukakan hal yang senada, sebagaimana kata Beliau dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab Sunan Ibnu Majah, beliau mengemukakan bahwa, Disebut ‘gharib’ jika pengikutnya sedikit dan maksud asal dari kata ‘gharib’ adalah jauh dari negeri. Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan dan saling menyokong dalam menjalankan syari’at Islam padahal umatnya banyak. Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut. Sementara “Thuba” sendiri ditafsirkan dengan surga dan pohon besar yang berada di surga.
           
Ini menunjukkan bahwa memperjuangkan dan menjalankan ajaran Islam memang butuh akan keterasingan dari negeri. Ketika itu butuh ada kesabaran ekstra dalam menghadapi keterasingan sebagaimana keadaan Islam di awal-awal. Demikian penjelasan Imam As Sindi.
         
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan berbagai makna dari kata ‘thuba’ sehingga makna ‘thuba lil ghuroba’ adalah sebagai berikut:
  1. Kegembiraan dan penyejuk mata, yaitu mereka adalah yang paling bergembira dan jadi penyejuk mata, sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbas.
  2. Ni’ma maa lahum, yaitu sebaik-baik sesuatu yang mereka miliki, sebagaimana pendapat dari ‘Ikrimah.
  3. Ghibto lahum, yaitu merekalah yang pantas dihasad dalam kebaikan, artinya berlombalah dengan mereka dalam kebaikan, sebagaimana pendapat Adh Dhohak.
  4. Husna lahum, yaitu merekalah yang berhak mendapat kebaikan, sebagaimana pendapat dari Qatadah.
  5. Khoirul lahum wa karomah, yaitu merekalah yang mendapat kebaikan dan karomah, sebagaimana pendapat dari Ibrahim.
  6. Dawamul khoir, yaitu merekalah yang mendapat kebaikan terus menerus, sebagaimana pendapat dari Ibnu ‘Ajlan.
  7. Ada ulama yang mengatakan bahwa thuba adalah pohon di surga.
             
Kita memohon kepada Allah – Subhanahu wata’ala agar menjadikan kita dan juga saudara kita kaum muslimin seluruhnya bagian dari mereka dan Dialah sebaik-baik tempat meminta. Merujuk pada sejarah Islam awal, keadaan asing yang dimaksud cukup beralasan. Nabi diutus dengan ajaran tauhid di tengah masyarakat yang mayoritas menyembah banyak berhala. Islam datang dengan ajaran-ajaran yang sebagian besarnya asing di telinga masyarakat. Keadaan asing yang dimiliki oleh Islam awal ini cocok digambarkan dengan hadits di atas.
Menurut Miftakhur Risal, untuk memaknai hadits di atas dalam konteks kekinian, maka yang pertama, perlu kita kompromikan hadits tersebut dengan ayat 33 dari at-Taubah yang artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
            
Potongan ayat di atas berbicara mengenai janji Allah yang akan memenangkan Islam atas kelompok lain. “Menang” di sini tentu masih butuh banyak penafsiran. Namun tetap saja, menang dan asing adalah dua hal yang bertolak belakang. Pemenang biasanya akan dikenal, atau yang dikenal biasanya adalah yang menang. Bagaimana mungkin Islam dalam keadaan asing, tapi menjadi pemenang? Atau bagaimana mungkin Islam menang tapi tetap terasing?
             
Ada banyak tawaran untuk memaknai arti “asing” pada hadits tersebut. Salah satunya dengan mencerna riwayat Sahl bin Sa’d al-Sa’idi. Berdasar riwayat tersebut, ada penambahan kalimat tanya yang berbunyi, “siapakah mereka yang asing itu? ”Rasul menjawab, “orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.   
             
Dengan mengambil tawaran makna ini, bisa kita ajukan pertanyaan: apakah aksi teror adalah aksi perbaikan? Apakah sekian banyak manusia di Kampung Melayu, misalnya, sedang berbuat kerusakan, sehingga perlu “diperbaiki” dengan bom? Atau bukankah justru pelaku teror itu sedang—literally—melakukan kerusakan itu sendiri? Ini pertanyaan yang mestinya tidak terlalu sulit dijawab.                                                                                           
           
 
Alternatif pemaknaan yang kedua adalah dari riwayat Amr bin ‘Ash. Ketika Rasulullah Saw ditanya perihal orang asing yang beruntung tersebut, Rasulullah Saw menjawab, “Mereka (orang asing) adalah orang-orang salih di tengah-tengah mayoritas masyarakat yang buruk. Yang membangkang orang-orang shalih, lebih banyak dari yang menaatinya”.
             
Dalam kerangka ini, maka perlu dibuat kategori asing:
1.      Asing dalam kebenaran di tengah masyarakat yang batil.
2.      Asing dalam kebatilan di tengah masyarakat yang benar.
             
Jadi, tidak serta merta keterasingan dimaknai sebagai sesuatu yang Islami. Salah besar jika ada anggapan “semakin asing seseorang, semakin ia dekat dengan Islam”. Bukan begitu! Apa pun yang digunakan untuk memaknai “orang asing”, tidak ada satupun yang bisa menjadi pembenar untuk pelaku teror.
             

Dan sebenarnya, hadits tersebut juga sama sekali tidak berisi perintah untuk mengasingkan diri. Untuk jauh dari kerumunan. Di banyak kesempatan justru sebaliknya, kita diminta untuk ambil peran dalam kehidupan masyarakat. Umat Islam diminta menjadi ummatan-wasathan. Secara literal berarti umat yang berada di tengah. Namun, secara kontekstual adalah umat yang senantiasa mengambil peran. (dikutip dari berbagai sumber).


 JAYALAH IMM
ABADI KEBERSAMAAN
ABADI UKHUWAH
ABADI PERJUANGAN KITA
SEMOGA SAMPAI KE JANNAH-NYA


Penulis : 
IMMawan Irfan Iskandar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar